Senin, 29 Oktober 2018

PENGARUH PERBEDAAN KADAR GARAM TERHADAP FISIOLOGI IKAN LELE


   Laporan praktikum materi 3 Fisiologi Hewan Air

PENGARUH PERBEDAAN KADAR GARAM TERHADAP FISIOLOGIS IKAN LELE (Clarias Batrachus)









Siti Fatimah

4443170005

Kelompok 1




JURUSAN PERIKANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2018


 
BAB 1

PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang
Menurut Affandi dan Usman (2002) Osmoregulasi merupakan pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis dapat  berjalan dengan normal. Ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Ketika suatu organisme air dimasukkan kedalam suatu lingkungan dengan salinitas yang berbeda. Maka proses osmoregulasi akan lebih cenderung tinggi di bandingkan dengan lingkungan awalnya.
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air tawar secara definisi kurang dari 0,05%. Air dikategorikan sebagai air payau dan menjadi air laut bila konsentrasinya 3 sampai 5% atau lebih dari 5%. Salinitas menjadi faktor pembatas bagi kehidupan hewan aquatik termasuk ikan nila lele (Suyanto 2007).
Perbedaan salinitas dalam air akan mempengaruhi jasad-jasad hidup organisme akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik. Salinitas yang berbeda dapat menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Ikan hidup pada kondisi dimana lingkungannya memiliki tekanan osmotik yang berbeda dengan tekanan osmotik cairan tubuhnya oleh karena itu dalam upaya menyesuaikan diri dengan lingkungannya diperlukan suatu pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung  dengan normal. Pengaturan tekanan cairan osmotik pada tubuh ikan ini  disebut osmoregulasi. Penyesuaian  ikan terhadap pengaruh lingkungan itu merupakan suatu homeostasis. Homeostasis merupakan kecenderungan organisme hidup untuk mengontrol dan mengatur fluktuasi lingkungan internalnya. Berkaitan dengan hal di atas, maka perlu diadakannya praktikum Fisiologi Hewan Air tentang pengaruh perbedaan kadar garam terhadap fisiologi ikan, untuk mengetahui osmoregulasi pada ikan lele dengan pengaruh pemberian salinitas yang berbeda (Arfianto 2011).

1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kisaran salinitas yang dapat ditoleransi oleh biota akuatik dan responnya untuk mengatasi perubahan keadaan lingkungan.



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele (Clarias batrachus)
Menurut Suyanto (2007) Ikan Lele adalah salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk ke dalam ordo Ostariophysi dan digolongkan ke dalam ikan bertulang sejati. Lele dicirikan dengan tubuhnya yang licin dan pipih memanjang, serta adanya sungut yang menyembul dari daerah sekitar mulutnya. Nama ilmiah Lele adalah Clarias sp. yang berasal dari bahasa Yunani yaitu Chlaros yang berarti kuat dan lincah. Klasifikasi ikan lele berdasarkan Fujaya (1999) adalah sebagai berikut:
    Kingdom                 : Animalia
    Filum                       : Chordata
    Kelas                       : Pisces
    Subkelas                  : Teleostei
    Ordo                        : Ostariophysi
    Subordo                  : Siluroidae
    Famili                      : Clariidae
    Genus                      : Clarias
    Spesies                    : Clarias batrachus
Ikan lele merupakan hewan nokturnal dimana ikan ini aktif pada malam hari dalam mencari mangsa. Ikan-ikan yang termasuk ke dalam genus lele dicirikan dengan tubuhnya yang tidak memiliki sisik, berbentuk memanjang serta licin. Ikan Lele mempunyai sirip punggung serta sirip anal berukuran panjang, yang hampir menyatu dengan ekor atau sirip ekor. Ikan lele memiliki kepala dengan bagian seperti tulang mengeras di bagian atasnya. Mata ikan lele berukuran kecil dengan mulut di ujung moncong berukuran cukup lebar. Dari daerah sekitar mulut menyembul empat pasang barbel (sungut peraba) yang berfungsi sebagai sensor untuk mengenali lingkungan dan mangsa (Khairuman dan Khairul 2003).
Lele memiliki alat pernapasan tambahan yang dinamakan Arborescent. Aborescent ini merupakan organ pernapasan yang berasal dari busur insang yang telah termodifikasi. Pada kedua sirip dada lele terdapat sepasang duri (patil), berupa tulang berbentuk duri yang tajam. Pada beberapa spesies ikan lele, duri-duri patil ini mengandung racun ringan, hampir semua spesies lele hidup di perairan tawar. Bentuk tubuh ikan lele memanjang, agak silindris (membulat) dibagian depan dan mengecil ke bagian ekornya. Kulitnya tidak memiliki sisik, berlendir, licin, dan ketika  terkena sinar matahari warna tubuh ikan lele dumbo berubah menjadi pucat dan jika terkejut warna tubuhnya otomatis menjadi loreng seperti mozaik hitam-putih. Mulut ikan lele dumbo relatif lebar,yaitu sekitar ¼ dari panjang total tubuhnya (Khairuman dan Khairul 2003).

2.2 Osmoregulasi
Osmoregulasi merupakan kemampuan organisme untuk mempertahankan keseimbangan kadar dalam tubuh, didalam zat yang kadar garamnya berbeda. Osmoregulasi juga dapat dikatakan sebagai suatu upaya untuk mengontrol keseimbangan air dan ion-ion antara tubuh dengan lingkungannya.  Pengaturan terhadap tekanan osmotik cairan tubuh yang relative konstan adalah hal yang dibutuhkan ikan agar proses fisiologi dalam tubuhnya berjalan normal.  Pengaturan tersebut disebut dengan osmoregulasi.  Organ yang berperan proses osmoregulasi adalah ginjal, ingsang, kulit, mulut dan beberapa membran khusus lainnya (Friska et al 2017).
Osmoregulasi ion dan air pada ikan terjadi hipertonik, hipotonik atau isotonik, tergantung pada perbedaan (lebih tinggi, lebih rendah atau sam antara konsentrasi cairan tubuh dengan konsentrasi media. Perbedaan tersebut dapat dijadikan sebagai strategi dalam menangani komposisi cairan ekstraselular dalam tubuh ikan. Ikan-ikan potadrom yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya, biasanya dalam proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungan dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat terjadi dengan cara meminum sedikit air atau bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan air dalam tubuhnya dapat dikurangi dengan membuangnya dalam bentuk urin (Affandi dan Usman 2002).
Regulasi Hipertonik atau Hiperosmotik, yaitu pengaturan aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi lingkungan, misalnya pada Ikan air tawar yang empertahankan konsentrasi cairan tubuhnya dengan mengurangi minum dan memperbayak urin. Regulasi Hipotenik atau Hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi lingkungan, misalnya pada oseandrom (Ikan air laut), yang meperbanyak minum dan mengurangi volume urin. Regulasi isotonik atau Isoosmotik yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi lingkungan, misalnya ikan yang hidup pada daerah estuary (Friska et al 2017).
Ikan air laut minum air dalam jumlah yang banyak dan mengeluarkan sedikit urin. Ikan air tawar, biasanya  garam akan memasuki insang dan dalam jumlah yang banyak air akan masuk lewat kulit ikan dan insang. Kadar garam di dalam tubuh ikan  (mendekati 0.5%) yang lebih tinggi daripada konsentrasi air di mana ikan tersebut hidup, karena tubuh ikan akan  berusaha agar proses difusi antara air kedalam tubuh ikan tetap berlangsung, sejumlah  besar air dikeluarkan oleh ginjal. Sebagai hasilnya bahwa konsentrasi garam pada urine sangat rendah.  Osmoregulasi penting dilakukan terutama oleh organisme perairan karena harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan. Tanpa osmoregulasi maka ikan akan mati, ini karena osmoregulasi dapat mengontrol konsentrasi cairan dalam tubuh ikan (Fujaya 1999).

2.3 Salinitas
Salinitas merupakan kadar garam terlarut atau jumlah total material terlarut yang dinyatakan dalam gram yang terkandung dalam 1 kg air laut, Satuan salinitas yaitu (‰) (per mil). Salinitas air laut di seluruh wilayah perairan di dunia berkisar antara 33 -37 per mil , dengan nilai median 34,7 per 25 mil, namun di Laut Merah dapat mencapai 40 per mil.Salinitas air laut tertinggi terjadi di sekitar wilayah ekuator, sedangkan terendah dapat terjadi di daerah kutub walaupun pada kenyataannya sekitar 75% air laut mempunyai salinitas antara 34,5 - 35,0 per mil (Fujaya 1999).
Menurut Affandi dan Usman (2002) salinitas yang tersebar di dalam laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai. Perairan dengan tingkat curah hujan tinggi dan dipengaruhi oleh aliran sungai memiliki salinitas yang rendah, sedangkan perairan yang memiliki penguapan yang tinggi maka salinitas perairannya tinggi pula. Selain itu pola sirkulasi juga berperan dalam penyebaran salinitas di suatu perairan. Secara vertikal nilai salinitas air laut akan semakin besar dengan bertambahnya kedalaman. Di perairan laut lepas, angin sangat menentukan penyebaran salinitas secara vertikal. Pengadukan di dalam lapisan permukaan memungkinkan salinitas menjadi homogen. Lautan terdiri dari air sebanyak 96,5%, material terlarut dalam bentuk molekul dan ion sebanyak 3,5%, material yang terlarut tersebut 89 % terdiri dari garam Chlor, sedangkan sisanya 11% terdiri dari unsur-unsur lainnya.
            Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh,  Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%. Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam sekitar 3,5 %, air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya. Yang paling tawar adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari Laut Baltik. Yang paling asin adalah di Laut Merah, di mana suhu tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air dari sungai-sungai. Kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi (Simon dan Patty 2013).
Zat terlarut dalam air laut  meliputi garam-garam anorganik, senyawa-senyawa organik yang berasal dari organisme hidup, dan gas-gas yang terlarut. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55,04%), natrium (30,61%), sulfat (7,68%), magnesium (3.69%), kalsium (1,16%), kalium (1,10%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama dari garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal di laut dalam. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Simon dan Patty 2013).

2.4 Pengaruh Kadar Garam Terhadap Ikan
Salinitas media akan mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, ketika tekanan osmotik lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi, akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat tubuh (Muhlis et al. 2016).
Penambahan kadar garam  kedalam  akuarium tidak menyebabkan proses pernapasan pada ikan semakin melambat, tetapi proses pernapasan tersebut terjadi tidak teratur tergantung energi yang dibutuhkan ikan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain itu, kadar garam juga berpengaruh terhadap berat ikan. Berat ikan sebelum perlakuan biasanya lebih besar dibandingkan dengan berat ikan setelah perlakuan atau setelah ikan dipindahkan kedalam air yang salinitasnya lebih tinggi (Fujaya 1999).
Kadar garam yang terlalu tinggi bagi ikan air tawar atau kadar garam yang terlalu erndah bagi ikan air laut dapat membuat ikan stres dan  mempengaruhi fisiologis ikan. Semua kasus dimana pengukuran dilakukan terhadap ikan yang berhasil dipindahkan ke lingkungan yang lebih pekat, akan terjadi secara sementara kehilangan berat (bobot tubuh) dan peningkatan konsentrasi garam. Penyesuaian fisiologis yang diperlukan ikan berlangsung dalam waktu 48 jam dan berat konsentrasi akan kembali normal. Ketika ikan bermigrasi dari laut ke air tawar maka mereka akan memperoleh air dan kehilangan garam serta harus menyesuaikan diri dengan peningkatan aliran urin dan penahanan garam di dalam tubuh (Muhlis et a. 2016).



BAB 3
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum fisiologi hewan air tentang pengaruh perbedaan kadar garam terhadap fisiologis ikan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 26 September 2018 pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Bertem pat di Laboratorium Budidaya Perairan (BDP) lantai 1, Jurusan Perikanan Fakultas Pertaian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah akuarium, kamera, lap atau tisu, gayung, refraktometer, kertas label, aerator, dan timbangan digital. sedangkan bahan yang digunakan ialah air tawar,  air laut, dan ikan (kelompok 1 ikan Lele 30 ekor, kelompok 2 Udang Vanamei 30 ekor, kelompok 3 ikan Platy 30 ekor)
3.3 Metode Percobaan
Praktikum ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang menggunakan 3 taraf perlakuan, yaitu air tawar, air payau, dan air laut. Air payau dibuat dengan cara mencampurkan air tawar dan air laut. Perlakuan pertama (air tawar, salinitas 0) akuarium di isi air 10 liter dan masukan ikan atau udang sebanyak 10 ekor, kemudian pengamatan dilakukan selama 6 jam sampai ikan atau udang mati semua. Perlakuan kedua (air payau, salinitas 15) akuarium di isi air 10 liter dan ikan atau udang sebanyak 10 ekor, kemudian pengamatan dilakukan selama 6 jam sampai ikan atau udang mati semua. Perlakuan ketiga (air laut, salinitas 29-30) akuarium di isi air 10 liter dan ikan atau udang sebanyak 10 ekor, kemudian pengamatan dilakukan selama 6 jam sampai ikan atau udang mati semua. Parameter yang diamati adalah tingkah laku atau respon ikan, SR, dan Bobot ikan mati. Prosedur kerja dapat dilihat pada diagram alir dibawah ini.

Air tawar salinitas 0

Siapkan akuarium yang sudah diberi 10 liter air tawar
Masukan 10 ekor ikan lele  pada akuarium
Amati ikan setiap 15 menit selama 6 jam
Lakukan penimbangan bobot ikan mati

Gambar 1. Pengaruh Perbedaan Kadar Garam Terhadap Fisiologis Ikan Lele Pada Akuarium 1

Air payau salinitas 15

Siapkan akuarium kedua yang sudah diberi 10 liter air payau
Masukan 10 ekor ikan lele pada akuarium
Amati ikan setiap 15 menit selama 6 jam
                                  
Lakukan penimbangan bobot ikan mati

Gambar 2. Pengaruh Perbedaan Kadar Garam Terhadap Fisiologis Ikan Lele Pada Akuarium 2


Air laut salinitas 29-30

Siapkan akuarium ketiga yang sudah diberi 10 liter air laut
Masukan 10 ekor ikan lele pada akuarium
Amati ikan setiap 15 menit selama 6 jam
                                             
Lakukan penimbangan bobot ikan mati

Gambar 3. Pengaruh Perbedaan Kadar Garam Terhadap Fisiologis Ikan Lele Pada Akuarium 3

3.4  Metode percobaan
Tabel 1. Rancangan Acak Kelompok (RAL)
Perlakuan
Ulangan
Yi
kelas A
kelas B
salinitas 0
1
0.8
1.8
salinitas 15
0
0.3
0.3
salinitas 38
0
0
0
Jumlah 
2.1




Sumber Keragaman
Derajat Bebas
Jumlah Kuadrat
Kuadrat Tengah
F Hitung
F Tabel


P
3
0,93
0,465
21,46154
9,552094

S
2
0,065
0,021667



T
5
0,995











Tabel 2. RAL
F hit > F tab
Tolak Ho : ada pengaruh yang berbeda nyata terhadap perbedaan salinitas.
Perbedaan salinitas berpengaruh terhadap tingkat bertahan hidup dan bobot relatf ikan lele

3.5  Analisis Ragam
Tabel 3. Anova
Anova: Single Factor











SUMMARY





Groups
Count
Sum
Average
Variance


Row 1
2
1.8
0.9
0.02


Row 2
2
0.3
0.15
0.045


Row 3
2
0
0
0

















ANOVA






Source of Variation
SS
df
MS
F
P-value
F crit
Between Groups
0.93
2
0.465
21.46154
0.016697
9.552094
Within Groups
0.065
3
0.021667










Total
0.995
5








BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil praktiukum fisiologi hewan air tentang pengaruh perbedaan kadar garam terhadap fisiologis ikan lele adalah sebagai berikut:
                        Grafik. 1 Pengaruh salinitas terhadap SR

Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) pada akuarium satu adalah 100%.  Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa pada perlakuan satu dengan salinitas 0 memberikan hasil tingkat bertahan hidup yang paling baik yaitu 100%, karena pada perlakuan pertama ini tidak ada ikan yang mati. Tingkat kelangsungan hidup kedua ada pada akuarium dua dengan salinitas 15 (air payau), ikan mati semua setelah 6 jam.  Tingkat bertahan hidup paling rendah terdapat pada akuarium  tiga dengan salinitas 38 (air laut), ikan mati semua dalam kurun waktu 1 jam. Kematian  ikan yang terjadi pada tiap perlakuan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ialah salinitas. Semakin tinggi salinitas maka semakin tinggi pula  tingkat  kematian  ikan,  karena  jika  tingkat  osmoregulasi  tinggi sedangkan  kemampuan bertahan hidup ikan  rendah  maka  akan  berakibat  pada  kematian  ikan lele. Kelangsungan   hidup   benih   ikan lele dipengaruhi oleh kemampuan osmoregulasi Ikan lele yang bersifat euryhaline walaupun habitat aslinya adalah  lingkungan air tawar. Benih ikan lele tidak dapat menyesuaikan diri terhadap kadar garam yang tinggi. Ikan lele mampu mempertahankan hidupnya sampai salinitas 8 ‰ (Sitio et al 2017).
Grafik 2. Pengaruh salinitas terhadap perubahan bobot relative

Menurut Rahim et al (2015) Kemampuan ikan untuk bertahan pada media bersalinitas tergantung pada kemampuan untuk mengatur cairan tubuh sehingga mampu mempertahankan tingkat tekanan osmotik yang konstan dan perubahan kadar salinitas juga mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, oleh karena itu ikan harus melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar kondisi homeostatis dalam tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang dimilikinya.  Kemungkinan  ikan  yang  berukuran  lebih  besar  mempunyai kemampuan  mengatur  cairan  tubuh  yang  lebih  baik.  Kesempurnaan  organ  dari  ikan  uji  merupakan salah  satu  faktor  utama  yang  mendukung  keberhasilan  dari  adaptasi  ikan-ikan  uji  yang  digunakan terhadap  perlakuan  yang  diberikan.
Perbedaan salinitas juga dapat mempengaruhi perubahan bobot relative ikan. Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa pada salinitas 0 tidak terjadi perubahan bobot yang terlalu signifikan, sedangkan pada salinitas 15 dan 38 terjadi perubahan bobot relative yang cukup signifikan.  Semakin tinggi salinitas maka semakin besar pula perubahan bobot relative ikan, dalam arti lain semakin banyak bobot ikan yang berkurang karena ikan harus menyesuaikan diri terhadap salinitas yang tinggi (Sitio et al 2017).


BAB 5
PENUTUTP

5.1 Kesimpulan
            Pengamatan ikan  lele pada media dengan salinitas 0 ppt (air tawar),  15 ppt (air payau) dan 38 ppt (air asin) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perubahan bobot relatif yang berbeda nyata. Tingkat bertahan hidup paling baik yaitu pada perlakuan pertama (air tawar) salinitas 0 ppt dengan nilai survival rate 100 % , dimana pada salinitas ini tidak ada ikan yang mati, sedangkan pada salinitas 38 ppt nilai survival rate ikan lele adalah 0 setelah 1 jam karena ikan mati semua. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa ikan lele memiliki rentang toleransi yang rendah terhadap perbedaan salinitas. Ikan lele hanya dapat dipelihara di lahan dengan kadar salinitas 3,79-4,17 ppt, dengan salinitas toleransinya hingga 8 ppt, lebih dari itu, proses fisiologis ikan lele akan terganggu dan ikan lele tidak dapat bertahan hidup.
            Perbedaan salinitas juga dapat mempengaruhi bobot relative ikan. Kemampuan ikan untuk bertahan pada media bersalinitas tergantung pada kemampuan untuk mengatur cairan tubuh sehingga mampu mempertahankan tingkat tekanan osmotik yang konstan, oleh karena itu ikan harus melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Ketika salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar kondisi homeostatis dalam tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang dimilikinya.

5.2 Saran
            Untuk salinitas air laut sebaiknya berkisar 30 ppt, jangan terlalu tinggi agar dapat teramati secara perlahan perubahan fisiologis ikan nya, karena kemarin itu ikan lele baru 30 menit pertama sudah banyak yang mati. Untuk praktikan sebaiknya berhati-hati dalam menggunakan alat-alat laboratorium dan apabila telah selesai menggunakannya sebaiknya segera disimpan kembali agar tidak terjadi kerusakan pada alat-alat tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R. Dan Usman M. T. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru: Unri Press

Arfianto, D. 2011. Pengaruh Suhu Terhadap Penetasan Telur Ikan Lele Dumbo      (Clarias gariepinus). [SKRIPSI]. Universitas IKIP PGRI. Semarang.

Friska, M. H., Jubaedah, D., Syaifudin, M. 2017. Kelangsungan Hidup Dan           Pertumbuhan Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Pada Salinitas Yang Berbeda.    Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia. 5(1) : 83-96

Fujaya, Y. 1999. Fisiologi Ikan: Dasar Pengembangan Teknik Perikanan.  Jakarta: Rineka Cipta.

Khairuman dan Khairul, A. 2003. Budidaya Lele Dumbo Secara Intensif. Jakarta:   Agromedia Pustaka.

Muhlis, A., Kadirman. dan Mustari, A. 2016. Penerapan Berbagai Dosis Garam     Terhadap Mutu Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp) Asap Menggunakan            Metode Smoke Cabinet. Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian. 2 (1):          540-546.

Rahim, T., Rully, T., Hasim. 2015. Pengaruh Salinitas Berbeda Terhadap    Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan  Hidup Benih Ikan Nila Merah            (Oreochromis niloticus) Di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo. Jurnal            Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 3 (1).
Simon dan Patty. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut Di Perairan Kema Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 1 (3).

Sitio, M. H.F., Dade, J., Syaifudin, M. 2017. Kelangsungan Hidup Dan      Pertumbuhan Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Pada Salinitas Media yang           Berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia. 5(1) : 83-96

Suyanto. S.R. 2007. Budidaya Ikan Lele. Jakarta : Penebar Swadaya.