Laporan praktikum
materi 3 Fisiologi Hewan Air
PENGARUH
PERBEDAAN KADAR GARAM TERHADAP FISIOLOGIS IKAN LELE (Clarias Batrachus)
Siti Fatimah
4443170005
Kelompok 1
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Menurut Affandi dan
Usman (2002) Osmoregulasi merupakan pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh
yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis dapat berjalan dengan normal. Ikan mempunyai
tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus
mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di
dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Ketika suatu organisme air
dimasukkan kedalam suatu lingkungan dengan salinitas yang berbeda. Maka proses
osmoregulasi akan lebih cenderung tinggi di bandingkan dengan lingkungan
awalnya.
Salinitas adalah
tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat
mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar
danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini
dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air tawar
secara definisi kurang dari 0,05%. Air dikategorikan sebagai air payau dan
menjadi air laut bila konsentrasinya 3 sampai 5% atau lebih dari 5%. Salinitas
menjadi faktor pembatas bagi kehidupan hewan aquatik termasuk ikan nila lele (Suyanto 2007).
Perbedaan salinitas
dalam air akan mempengaruhi jasad-jasad hidup organisme akuatik melalui
pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik. Salinitas yang berbeda
dapat menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Ikan hidup
pada kondisi dimana lingkungannya memiliki tekanan osmotik yang berbeda dengan
tekanan osmotik cairan tubuhnya oleh karena itu dalam upaya menyesuaikan diri
dengan lingkungannya diperlukan suatu pengaturan keseimbangan air dan garam
dalam jaringan tubuhnya agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat
berlangsung dengan normal. Pengaturan tekanan cairan osmotik pada tubuh
ikan ini disebut osmoregulasi. Penyesuaian ikan terhadap pengaruh
lingkungan itu merupakan suatu homeostasis. Homeostasis merupakan kecenderungan organisme hidup untuk
mengontrol dan mengatur fluktuasi lingkungan internalnya. Berkaitan dengan hal di atas, maka perlu diadakannya praktikum Fisiologi
Hewan Air tentang pengaruh perbedaan kadar garam terhadap fisiologi ikan, untuk
mengetahui osmoregulasi pada ikan lele dengan pengaruh pemberian salinitas yang berbeda (Arfianto 2011).
1.2 Tujuan
Tujuan
dari praktikum ini adalah untuk menentukan kisaran salinitas yang dapat
ditoleransi oleh biota akuatik dan responnya untuk mengatasi perubahan keadaan lingkungan.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele (Clarias batrachus)
Menurut Suyanto (2007) Ikan Lele
adalah salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk ke dalam ordo Ostariophysi
dan digolongkan ke dalam ikan bertulang sejati. Lele dicirikan dengan tubuhnya
yang licin dan pipih memanjang, serta adanya sungut yang menyembul dari daerah
sekitar mulutnya. Nama ilmiah Lele adalah Clarias
sp. yang berasal dari bahasa Yunani yaitu Chlaros yang berarti kuat dan lincah.
Klasifikasi ikan lele berdasarkan Fujaya (1999) adalah sebagai berikut:
Kingdom :
Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas :
Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo :
Siluroidae
Famili : Clariidae
Genus : Clarias
Spesies :
Clarias batrachus
Ikan lele merupakan hewan
nokturnal dimana ikan ini aktif pada malam hari dalam mencari mangsa. Ikan-ikan
yang termasuk ke dalam genus lele dicirikan dengan tubuhnya yang tidak memiliki
sisik, berbentuk memanjang serta licin. Ikan Lele mempunyai sirip punggung
serta sirip anal berukuran panjang, yang hampir menyatu dengan ekor atau sirip
ekor. Ikan lele memiliki kepala dengan bagian seperti tulang mengeras di bagian
atasnya. Mata ikan lele berukuran kecil dengan mulut di ujung moncong berukuran
cukup lebar. Dari daerah sekitar mulut menyembul empat pasang barbel (sungut
peraba) yang berfungsi sebagai sensor untuk mengenali lingkungan dan mangsa
(Khairuman dan Khairul 2003).
Lele memiliki alat pernapasan
tambahan yang dinamakan Arborescent. Aborescent ini merupakan organ pernapasan
yang berasal dari busur insang yang telah termodifikasi. Pada kedua sirip dada
lele terdapat sepasang duri (patil), berupa tulang berbentuk duri yang tajam.
Pada beberapa spesies ikan lele, duri-duri patil ini mengandung racun ringan, hampir
semua spesies lele hidup di perairan tawar. Bentuk tubuh ikan lele memanjang,
agak silindris (membulat) dibagian depan dan mengecil ke bagian ekornya.
Kulitnya tidak memiliki sisik, berlendir, licin, dan ketika terkena sinar matahari warna tubuh ikan lele
dumbo berubah menjadi pucat dan jika terkejut warna tubuhnya otomatis menjadi
loreng seperti mozaik hitam-putih. Mulut ikan lele dumbo relatif lebar,yaitu
sekitar ¼ dari panjang total tubuhnya (Khairuman dan Khairul 2003).
2.2
Osmoregulasi
Osmoregulasi merupakan kemampuan
organisme untuk mempertahankan keseimbangan kadar dalam tubuh, didalam zat yang
kadar garamnya berbeda. Osmoregulasi
juga dapat dikatakan sebagai suatu upaya untuk mengontrol keseimbangan air dan
ion-ion antara tubuh dengan lingkungannya. Pengaturan terhadap tekanan
osmotik cairan tubuh yang relative konstan adalah hal yang dibutuhkan ikan agar
proses fisiologi dalam tubuhnya berjalan normal. Pengaturan tersebut
disebut dengan osmoregulasi. Organ yang berperan proses osmoregulasi
adalah ginjal, ingsang, kulit, mulut dan beberapa membran khusus lainnya
(Friska et al 2017).
Osmoregulasi ion dan air pada
ikan terjadi hipertonik, hipotonik atau isotonik, tergantung pada perbedaan
(lebih tinggi, lebih rendah atau sam antara konsentrasi cairan tubuh dengan
konsentrasi media. Perbedaan tersebut dapat dijadikan sebagai strategi dalam
menangani komposisi cairan ekstraselular dalam tubuh ikan. Ikan-ikan potadrom
yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya, biasanya dalam proses
osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungan
dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat terjadi dengan cara
meminum sedikit air atau bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan air
dalam tubuhnya dapat dikurangi dengan membuangnya dalam bentuk urin (Affandi
dan Usman 2002).
Regulasi Hipertonik atau
Hiperosmotik, yaitu pengaturan aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi
dari konsentrasi lingkungan, misalnya pada Ikan air tawar yang empertahankan
konsentrasi cairan tubuhnya dengan mengurangi minum dan memperbayak urin.
Regulasi Hipotenik atau Hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif
konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi lingkungan,
misalnya pada oseandrom (Ikan air laut), yang meperbanyak minum dan mengurangi
volume urin. Regulasi isotonik atau Isoosmotik yaitu bila
konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi lingkungan, misalnya ikan yang
hidup pada daerah estuary (Friska
et al 2017).
Ikan
air laut minum air dalam jumlah yang banyak dan mengeluarkan sedikit urin. Ikan
air tawar, biasanya garam akan memasuki
insang dan dalam jumlah yang banyak air akan masuk lewat kulit ikan dan insang.
Kadar garam di dalam tubuh ikan
(mendekati 0.5%) yang lebih tinggi daripada konsentrasi air di mana ikan
tersebut hidup, karena tubuh ikan akan berusaha agar proses difusi antara
air kedalam tubuh ikan tetap berlangsung, sejumlah besar air dikeluarkan
oleh ginjal. Sebagai hasilnya bahwa konsentrasi garam pada urine sangat rendah. Osmoregulasi penting
dilakukan terutama oleh organisme perairan karena
harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan
lingkungan. Tanpa
osmoregulasi maka ikan akan mati, ini karena osmoregulasi dapat mengontrol
konsentrasi cairan dalam tubuh ikan (Fujaya 1999).
2.3
Salinitas
Salinitas merupakan kadar garam
terlarut atau jumlah total material terlarut yang dinyatakan dalam gram yang
terkandung dalam 1 kg air laut, Satuan salinitas yaitu (‰) (per
mil). Salinitas air laut di seluruh wilayah perairan di dunia berkisar antara
33 -37 per mil , dengan nilai median 34,7 per 25 mil, namun di Laut Merah dapat
mencapai 40 per mil.Salinitas air laut tertinggi terjadi di sekitar wilayah
ekuator, sedangkan terendah dapat terjadi di daerah kutub walaupun pada
kenyataannya sekitar 75% air laut mempunyai salinitas antara 34,5 - 35,0 per mil
(Fujaya 1999).
Menurut Affandi dan Usman (2002)
salinitas yang tersebar di dalam laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai. Perairan dengan
tingkat curah hujan tinggi dan dipengaruhi oleh aliran sungai memiliki
salinitas yang rendah, sedangkan perairan yang memiliki penguapan yang tinggi
maka salinitas perairannya tinggi pula. Selain itu pola sirkulasi juga berperan
dalam penyebaran salinitas di suatu perairan. Secara vertikal nilai salinitas
air laut akan semakin besar dengan bertambahnya kedalaman. Di perairan laut
lepas, angin sangat menentukan penyebaran salinitas secara vertikal. Pengadukan
di dalam lapisan permukaan memungkinkan salinitas menjadi homogen. Lautan
terdiri dari air sebanyak 96,5%, material terlarut dalam bentuk molekul dan ion
sebanyak 3,5%, material yang terlarut tersebut 89 % terdiri dari garam Chlor,
sedangkan sisanya 11% terdiri dari unsur-unsur lainnya.
Air laut secara alami merupakan
air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air
laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%. Walaupun
kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam sekitar 3,5 %, air laut juga
berbeda-beda kandungan garamnya. Yang paling
tawar adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya
bagian dari Laut Baltik. Yang paling asin adalah di Laut Merah, di mana suhu
tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air
dari sungai-sungai. Kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi (Simon
dan Patty 2013).
Zat terlarut dalam air laut meliputi garam-garam anorganik,
senyawa-senyawa organik yang berasal dari organisme hidup, dan gas-gas yang
terlarut. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida
(55,04%), natrium (30,61%), sulfat (7,68%), magnesium (3.69%), kalsium (1,16%),
kalium (1,10%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida,
asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama dari garam-garaman di laut
adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang
hidrotermal di laut dalam. Berdasarkan
kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan
menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil dan Ikan yang
mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Simon dan Patty 2013).
2.4
Pengaruh Kadar Garam Terhadap Ikan
Salinitas media akan
mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, ketika tekanan osmotik
lingkungan (salinitas) berbeda jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh
(kondisi tidak ideal) maka osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga
dibutuhkan energi yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar
tetap berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi,
akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat tubuh
(Muhlis et al. 2016).
Penambahan kadar garam
kedalam akuarium tidak
menyebabkan proses pernapasan pada ikan semakin melambat, tetapi proses
pernapasan tersebut terjadi tidak teratur tergantung energi yang dibutuhkan
ikan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain itu, kadar garam juga berpengaruh terhadap berat
ikan. Berat ikan sebelum perlakuan biasanya lebih
besar dibandingkan dengan berat ikan setelah perlakuan atau setelah ikan
dipindahkan kedalam air yang salinitasnya lebih tinggi (Fujaya 1999).
Kadar garam yang
terlalu tinggi bagi ikan air tawar atau kadar garam yang terlalu erndah bagi
ikan air laut dapat membuat ikan stres dan
mempengaruhi fisiologis ikan. Semua kasus dimana pengukuran dilakukan
terhadap ikan yang berhasil dipindahkan ke lingkungan yang lebih pekat, akan
terjadi secara sementara kehilangan berat (bobot tubuh) dan peningkatan
konsentrasi garam. Penyesuaian fisiologis yang diperlukan ikan berlangsung
dalam waktu 48 jam dan berat konsentrasi akan kembali normal. Ketika ikan
bermigrasi dari laut ke air tawar maka mereka akan memperoleh air dan
kehilangan garam serta harus menyesuaikan diri dengan peningkatan aliran urin
dan penahanan garam di dalam tubuh (Muhlis et
a. 2016).
BAB 3
METODOLOGI
3.1 Waktu
dan Tempat
Praktikum
fisiologi hewan air tentang pengaruh perbedaan kadar garam terhadap fisiologis
ikan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 26 September 2018 pukul 10.00 WIB
sampai dengan selesai. Bertem pat di Laboratorium Budidaya Perairan (BDP)
lantai 1, Jurusan Perikanan Fakultas Pertaian Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.
3.2 Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah akuarium, kamera, lap atau tisu, gayung, refraktometer,
kertas label, aerator, dan timbangan digital. sedangkan bahan yang digunakan
ialah air tawar, air laut, dan ikan
(kelompok 1 ikan Lele 30 ekor, kelompok 2 Udang Vanamei 30 ekor, kelompok 3
ikan Platy 30 ekor)
3.3
Metode Percobaan
Praktikum ini menggunakan metode
Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang menggunakan 3 taraf perlakuan, yaitu air
tawar, air payau, dan air laut. Air payau dibuat dengan cara mencampurkan air
tawar dan air laut. Perlakuan pertama (air tawar, salinitas 0) akuarium di isi
air 10 liter dan masukan ikan atau udang sebanyak 10 ekor, kemudian pengamatan
dilakukan selama 6 jam sampai ikan atau udang mati semua. Perlakuan kedua (air
payau, salinitas 15) akuarium di isi air 10 liter dan ikan atau udang sebanyak
10 ekor, kemudian pengamatan dilakukan selama 6 jam sampai ikan atau udang mati
semua. Perlakuan ketiga (air laut, salinitas 29-30) akuarium di isi air 10
liter dan ikan atau udang sebanyak 10 ekor, kemudian pengamatan dilakukan
selama 6 jam sampai ikan atau udang mati semua. Parameter yang diamati adalah
tingkah laku atau respon ikan, SR, dan Bobot ikan mati. Prosedur kerja dapat
dilihat pada diagram alir dibawah ini.
Air tawar salinitas 0
Siapkan akuarium yang sudah
diberi 10 liter air tawar
|
↓
|
Masukan 10 ekor ikan lele pada akuarium
|
↓
|
Amati ikan setiap 15 menit selama
6 jam
|
↓
|
Lakukan penimbangan bobot ikan
mati
|
Gambar 1. Pengaruh Perbedaan Kadar Garam
Terhadap Fisiologis Ikan Lele Pada Akuarium 1
Air
payau salinitas 15
Siapkan akuarium kedua yang sudah
diberi 10 liter air payau
|
↓
|
Masukan 10 ekor ikan lele pada
akuarium
|
↓
|
Amati ikan setiap 15 menit selama
6 jam
|
↓
|
Lakukan penimbangan bobot ikan
mati
|
Gambar 2. Pengaruh Perbedaan Kadar Garam
Terhadap Fisiologis Ikan Lele Pada Akuarium 2
Air laut salinitas 29-30
Siapkan akuarium ketiga yang
sudah diberi 10 liter air laut
|
↓
|
Masukan 10 ekor ikan lele pada
akuarium
|
↓
|
Amati ikan setiap 15 menit selama
6 jam
|
↓
|
Lakukan penimbangan bobot ikan
mati
|
Gambar 3. Pengaruh Perbedaan Kadar Garam
Terhadap Fisiologis Ikan Lele Pada Akuarium 3
3.4 Metode
percobaan
Tabel 1.
Rancangan Acak Kelompok (RAL)
Perlakuan
|
Ulangan
|
Yi
|
|
kelas A
|
kelas B
|
||
salinitas 0
|
1
|
0.8
|
1.8
|
salinitas 15
|
0
|
0.3
|
0.3
|
salinitas 38
|
0
|
0
|
0
|
Jumlah
|
2.1
|
||
Sumber Keragaman
|
Derajat Bebas
|
Jumlah Kuadrat
|
Kuadrat Tengah
|
F Hitung
|
F Tabel
|
|
P
|
3
|
0,93
|
0,465
|
21,46154
|
9,552094
|
|
S
|
2
|
0,065
|
0,021667
|
|||
T
|
5
|
0,995
|
||||
Tabel
2. RAL
F
hit > F tab
Tolak
Ho : ada pengaruh yang berbeda nyata terhadap perbedaan salinitas.
Perbedaan
salinitas berpengaruh terhadap tingkat bertahan hidup dan bobot relatf ikan
lele
3.5 Analisis Ragam
Tabel 3. Anova
Anova:
Single Factor
|
||||||
SUMMARY
|
||||||
Groups
|
Count
|
Sum
|
Average
|
Variance
|
||
Row
1
|
2
|
1.8
|
0.9
|
0.02
|
||
Row
2
|
2
|
0.3
|
0.15
|
0.045
|
||
Row
3
|
2
|
0
|
0
|
0
|
||
ANOVA
|
||||||
Source of Variation
|
SS
|
df
|
MS
|
F
|
P-value
|
F crit
|
Between
Groups
|
0.93
|
2
|
0.465
|
21.46154
|
0.016697
|
9.552094
|
Within
Groups
|
0.065
|
3
|
0.021667
|
|||
Total
|
0.995
|
5
|
||||
BAB
4
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
praktiukum fisiologi hewan air tentang pengaruh perbedaan kadar garam terhadap
fisiologis ikan lele adalah sebagai berikut:

Grafik. 1 Pengaruh
salinitas terhadap SR
Tingkat kelangsungan
hidup (survival rate) pada akuarium
satu adalah 100%. Berdasarkan grafik
diatas dapat diketahui bahwa pada perlakuan satu dengan salinitas 0 memberikan
hasil tingkat bertahan hidup yang paling baik yaitu 100%, karena pada perlakuan
pertama ini tidak ada ikan yang mati. Tingkat kelangsungan hidup kedua ada pada
akuarium dua dengan salinitas 15 (air payau), ikan mati semua setelah 6
jam. Tingkat bertahan hidup paling
rendah terdapat pada akuarium tiga
dengan salinitas 38 (air laut), ikan mati semua dalam kurun waktu 1 jam. Kematian
ikan yang terjadi pada tiap perlakuan
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ialah salinitas. Semakin tinggi
salinitas maka semakin tinggi pula
tingkat kematian ikan,
karena jika tingkat
osmoregulasi tinggi
sedangkan kemampuan bertahan hidup ikan rendah
maka akan berakibat
pada kematian ikan lele. Kelangsungan hidup
benih ikan lele dipengaruhi oleh
kemampuan osmoregulasi Ikan lele yang bersifat euryhaline walaupun habitat aslinya adalah lingkungan air tawar. Benih ikan lele tidak dapat
menyesuaikan diri terhadap kadar garam yang tinggi. Ikan lele mampu
mempertahankan hidupnya sampai salinitas 8 ‰ (Sitio et al 2017).

Grafik 2. Pengaruh salinitas terhadap
perubahan bobot relative
Menurut Rahim et al (2015) Kemampuan ikan untuk bertahan
pada media bersalinitas tergantung pada kemampuan untuk mengatur cairan tubuh
sehingga mampu mempertahankan tingkat tekanan osmotik yang konstan dan
perubahan kadar salinitas juga mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan,
oleh karena itu ikan harus melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik
internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja secara
normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar
kondisi homeostatis dalam tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang
dimilikinya. Kemungkinan ikan
yang berukuran lebih
besar mempunyai kemampuan mengatur
cairan tubuh yang
lebih baik. Kesempurnaan
organ dari ikan
uji merupakan salah satu
faktor utama yang
mendukung keberhasilan dari
adaptasi ikan-ikan uji
yang digunakan terhadap perlakuan
yang diberikan.
Perbedaan salinitas
juga dapat mempengaruhi perubahan bobot relative ikan. Berdasarkan grafik
diatas dapat diketahui bahwa pada salinitas 0 tidak terjadi perubahan bobot
yang terlalu signifikan, sedangkan pada salinitas 15 dan 38 terjadi perubahan
bobot relative yang cukup signifikan. Semakin
tinggi salinitas maka semakin besar pula perubahan bobot relative ikan, dalam
arti lain semakin banyak bobot ikan yang berkurang karena ikan harus
menyesuaikan diri terhadap salinitas yang tinggi (Sitio et al 2017).
BAB
5
PENUTUTP
5.1 Kesimpulan
Pengamatan
ikan lele pada media dengan salinitas 0
ppt (air tawar), 15 ppt (air payau) dan
38 ppt (air asin) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan perubahan
bobot relatif yang berbeda nyata. Tingkat bertahan hidup paling baik yaitu pada
perlakuan pertama (air tawar) salinitas 0 ppt dengan nilai survival rate 100 % , dimana pada salinitas ini tidak ada ikan yang
mati, sedangkan
pada salinitas 38 ppt nilai survival rate ikan lele adalah 0 setelah 1 jam
karena ikan mati semua. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa ikan
lele memiliki rentang toleransi yang rendah terhadap perbedaan salinitas. Ikan
lele hanya dapat dipelihara di lahan dengan kadar salinitas 3,79-4,17 ppt,
dengan salinitas toleransinya hingga 8 ppt, lebih dari itu, proses fisiologis
ikan lele akan terganggu dan ikan lele tidak dapat bertahan hidup.
Perbedaan
salinitas juga dapat mempengaruhi bobot relative ikan. Kemampuan ikan untuk
bertahan pada media bersalinitas tergantung pada kemampuan untuk mengatur
cairan tubuh sehingga mampu mempertahankan tingkat tekanan osmotik yang
konstan, oleh karena itu ikan harus melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja
osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja
secara normal kembali. Ketika salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar
kondisi homeostatis dalam tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang
dimilikinya.
5.2
Saran
Untuk salinitas
air laut sebaiknya berkisar 30 ppt, jangan terlalu tinggi agar dapat teramati
secara perlahan perubahan fisiologis ikan nya, karena kemarin itu ikan lele
baru 30 menit pertama sudah banyak yang mati. Untuk praktikan sebaiknya
berhati-hati dalam menggunakan alat-alat laboratorium dan apabila telah selesai
menggunakannya sebaiknya segera disimpan kembali agar tidak terjadi kerusakan
pada alat-alat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi,
R. Dan Usman M. T. 2002. Fisiologi Hewan
Air. Pekanbaru: Unri Press
Arfianto,
D. 2011. Pengaruh Suhu Terhadap Penetasan Telur Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). [SKRIPSI].
Universitas IKIP PGRI. Semarang.
Friska,
M. H., Jubaedah, D., Syaifudin, M. 2017. Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Lele (Clarias
sp.) Pada Salinitas Yang Berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia. 5(1) : 83-96
Fujaya,
Y. 1999. Fisiologi Ikan: Dasar
Pengembangan Teknik Perikanan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Khairuman
dan Khairul, A. 2003. Budidaya Lele Dumbo
Secara Intensif. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Muhlis,
A., Kadirman. dan Mustari, A. 2016. Penerapan Berbagai Dosis Garam Terhadap Mutu Ikan Lele Sangkuriang
(Clarias sp) Asap Menggunakan Metode
Smoke Cabinet. Jurnal Pendidikan
Teknologi Pertanian. 2 (1): 540-546.
Rahim,
T., Rully, T., Hasim. 2015. Pengaruh Salinitas Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila Merah (Oreochromis
niloticus) Di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo. Jurnal Ilmiah Perikanan
dan Kelautan. 3 (1).
Simon
dan Patty. 2013. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut Di Perairan Kema Sulawesi Utara. Jurnal
Ilmiah Platax.
1 (3).
Sitio,
M. H.F., Dade, J., Syaifudin, M. 2017. Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Pada
Salinitas Media yang Berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia. 5(1) :
83-96
Suyanto.
S.R. 2007. Budidaya Ikan Lele.
Jakarta : Penebar Swadaya.
