Praktikum materi 2 Fisiologi Hewan Air
PENGARUH
PADAT TEBAR TERHADAP PROSES FISIOLOGIS IKAN PLATY (Xiphophorus maculates)
Siti Fatimah
4443170005
Kelompok 1
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Padat
tebar merupakan jumlah ikan yang dibudidayakan dalam suatu lingkungan perairan
per satuan luas atau kapasitas wilayah tersebut. Padat penebaran ikan erat kaitannya dengan
produksi dan pertumbuhan ikan. Kepadatan ikan yang terlalu tinggi dapat
menurunkan ketersediaan pakan dan oksigen untuk setiap individu, sedangkan
akumulasi bahan buangan metabolik ikan akan semakin tinggi. Padat tebar yang
tinggi mengakibatkan adanya kompetisi ruang, oksigen dan makanan sehingga terjadi
variasi ukuran, pertumbuhan ikan melambat karena ikan kekurangan pakan dan
tingkat kelangsungan hidup rendah. Peningkatan kepadatan ikan tanpa disertai
dengan peningkatan jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air yang terkontrol
akan menyebabkan penurunan pertumbuhan ikan (Novita et al 2015).
Peningkatan padat penebaran juga akan mengganggu
proses fisiologis dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak yang pada akhirnya
akan dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan. Akibat lanjut dari
proses tesebut adalah penurunan pemanfaatan makanan, pertumbuhan dan
kelangsungan hidup mengalami penurunan. Sehingga peningkatan padat penebaran
harus sesuai dengan daya dukung.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah padat penebaran. Padat
penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena
menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup yang
mengarah kepada tingkat produksi (Siregar et al 2015).
Pengaturan
tinggi rendahnya padat tebar pada budidaya ikan akan menentukan efektivitas
penggunaan air dan ruang dalam produksi perunitnya. Permasalahan padat tebar
ini sangat kompleks karena dapat memepengaruhi kebiasaan dan fisiologi ikan.
Perubahan kebiasaan dikarenakan kebutuhan ikan akan ruang sedangkan kebutuhan
fisiologi berhubungan dengan kebutuhan air. Padat tebar dapat mempengaruhi
kesehatan, tingkah laku, pertumbuhan, kualitaas ikan, serta kualitas air.
Terdepat beberapa faktor yang mempengaruhi diterimanya padat tebar yang tepat
antara lain kadar oksigen, ukuran ikan, suhu air, aliran air, tersedianya ruang,
dan kadar ammonia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kenaikan padat tebar ikan
akan menurunkan laju pertumbuhan ikan. Padat tebar ikan berbeda-beda tergantung
jenis ikan, ukuran ikan, nutrisi, dan kualirtas air (Karlyssa
et al 2013).
Oleh
karena itu perlu dilakuakn penelitian mengenai pengaruh padat tebar yang berbeda
terhadap proses fisiologis dan pertumbuhan ikan Platy (Xiphophorus maculates), meliputi laju pertumbuhan, panjang ikan,
morfometrik, dan tingkah lakunya (Karlyssa et al 2013).
1.2 Tujuan
Praktikum pengaruh
padat tebar terhadap proses fisiologi ikan bertujuan untuk mendeskripsikan
pengaruh perubahan padat tebar terhadap proses fisiologis ikan (respirasi).
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Klasifikasi dan Morfologi Ikan Platy
Menurut Rachmawati et al (2016) Ikan Platy (Xiphophorus maculates) merupakan ikan
jenis livebearing dan masuk kedalam family poecilliidae, yang merupakan
keluarga terbesar dari empat family yang berisi hampir 200 spesies dan termasuk
ikan peliharaan akuarium yang banyak digemari. Platy adalah ikan hias yang
populer karena relative kokoh, mudah untuk dirawat, dan juga mudah bertelur
dipenangkaran. Ikan ini tidak akan tumbuh lebih besar dari 2,5 inci dan platy
tunggal dapat disimpan dalam akuarium. Menurut Merie (2010), klasifikasi ikan
platy adalah sebagai berikut:
Kingdom :
Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinodontiformes
Famili : Poecilliidae
Genus : Xiphophorus
Spesies : Xiphophorus maculates
Ikan platy berasal dari
Amerika Tengah dan Utara. Ikan platy dapat hidup pada PH 7,0 – 8,0, dan pada
suhu 20-30⁰C. Terdapat beberapa jenis platy yang berbeda, seperti platy wagtail
umum berwarna merah, sunset platy, variatus platy, dan tuxedo Platy. Sedangkan
bentuk varian warnanya seperti spotted, gold comet, red wag, black, blue coral,
leopard, dan lainnya. Platy akan hidup jika disimpan dalam lingkungan air yang
basa, ikan ini juga memungkinkan hidup tanpa makanan, tetapi tetap saja ia akan
hidup lebih baik jika diberi pakan. Ikan ini sangat mudah beradaptasi dan
memiliki toleransi yang baik dalam berbagai kondisi lingkunagn. Platy menyukai
habitat dengan banyak tanaman, karena ikan ini cenderung berenang dan
berkembang biak diantara tanaman. Membedakan ikan platy jantan dan betina sangatlah
mudah. Ikan jantan biasanya berbadan
ramping, pada sirip tengah bawah berbentuk lancip atau runcing, dan warna luar
lebih menarik. Sedangkan ikan betina badannya relative gemuk, pada sirip tengah
bagian bawah berbentuk bulat atau mengembang, dan warna luar kurang menarik
(Rachmawati et al 2016).
2.2 Carring
Capacity
Menurut Legovic et al (2008) Carring Capacity atau daya
dukung lingkungan merupakan batas atas dari pertumbuhan suatu populasi, dimana
jumlah populasi dapat tumbuh dengan baik. Daya dukung juga dapat dikatakan
sebagai produksi maksimum dari suatu spesies atau populasi dimana jumlah populasi tersebut tidak dapat
lagi didukung oleh sarana, sumberdaya
dan lingkungan yang ada. Daya dukung dapat dibagi menjadi empat, yaitu fisik, produksi,
ekologi, dan sosial. Secara ekologi, daya dukung merupakan tingkat suatu proses
atau peubah yang dapat berubah dalam suatu sistem, namun tidak membuat struktur
dan fungsinya melebihi batas tertentu yang dapat diterima. Daya dukung
ditentukan oleh kemampuan lingkungan menopang ekosistem, meliputi produktivitas
primer dan jenis ikan, serta ketersediaan nutrien.
Pertumbuhan akan terhenti saat
mencapai carrying capacity jika ketersediaan pakan hanya cukup untuk
pemeliharaan tubuh, namun tidak mencukupi untuk pertumbuhan. Tingkat potensial
pertumbuhan terhadap critical standing crop (CSC) harus terjaga dengan
meningkatkan jumlah pakan atau dengan penambahan food suplement. Cara lain
untuk menjaga tingkat potensial pertumbuhan adalah dengan mengurangi tingkat
kepadatan (Legovic et al 2008).
Daya dukung adalah
jumlah atau kuantitas maksimum ikan yang dapat didukung oleh suatu badan air
dalam jangka panjang, yang dipengaruhi oleh waktu pembilasan (flushing time),
volume badan air, dan beban limbah yang masuk ke perairan. Daya dukung untuk
kegiatan pemeliharaan ikan merupakan daya atau kekuatan suatu perairan dalam
menampung jumlah ikan tertentu pada lingkungan tertentu untuk dapat memenuhi
kebutuhan populasi ikan yang dipelihara tanpa menurunkan kualitas perairan.
Penentuan daya dukung perairan biasanya didasarkan kepada unsur bahan pencemar,
khususnya fosfor dan nitrogen, yang terdapat pada pakan yang masuk ke perairan.
Unsur P dan N merupakan unsure yang memengaruhi kesuburan perairan, namun P
lebih sering menjadi penyebab utama. Hal ini dikarenakan N dapat mengalami
denitrifikasi sehingga larut di dalam air, berbeda halnya dengan P yang dapat
mengendap dan terakumulasi di sedimen. Selain itu, fosfat merupakan jenis
limbah yang banyak dihasilkan dari kegiatan keramba di perairan tawar
dibandingkan dengan nitrogen. Oleh karena itu, penentuan daya dukung ikan alami
dilakukan dengan pendekatan produktivitas primer, diperoleh dari nilai klorofil
yang merupakan gambaran kondisi fosfat di perairan (Muhlisin et al 2015).
2.3
Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan Ikan
Peningkatan padat
penebaran akan mengganggu proses fisiologis dan tingkah laku ikan terhadap
ruang gerak yang pada akhirnya akan dapat menurunkan kondisi kesehatan dan
fisiologis ikan. Akibat lanjut dari proses tesebut adalah penurunan pemanfaatan
makanan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup mengalami penurunan. Sehingga
peningkatan padat penebaran harus sesuai
dengan daya dukung. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah padat penebaran. Padat
penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena
menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup yang
mengarah kepada tingkat produksi (Wardoyo 1975).
Permasalahan yang timbul akibat ikan ditebar
dalam keadaan padat adalah kompetisi untuk mendapatkan pakan dan ruang gerak.
Perbedaan dalam memanfaatkan pakan dan ruang gerak mengakibatkan pertumbuhan
ikan bervariasi. Dan jika kualitas air sebagai media hidup bagi ikan memburuk
dapat menurunkan pertumbuhan ikan bahkan dapat menyebabkan menurunnya
kelangsungan hidup ikan/kematian. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian
untuk menjelaskan pengaruh padat penebaran terhadap pertumbuhan dan
kelangsungan hidup ikan (Novita et al 2015).
Peningkatan padat
penebaran akan menurunkan nilai oksigen terlarut akibat tingginya kebutuhan
oksigen karena proses respirasi. Proses respirasi menghasilkan CO2 yang larut
dalam air. Semakin tinggi CO2 menyebabkan penurunan pH. Selain itu peningkatan
padat tebar juga mengakibatkan peningkatan kandungan amoniak akibat sisa
metabolisme dan sisa pakan yang terdekomposisi. Jika faktor-faktor tersebut
dapat dikendalikan maka peningkatan kepadatan akan mungkin dilakukan tanpa
menurunkan laju pertumbuhan ikan (Wardoyo 1975).
Penebaran ikan perlu memerhatikan
jenis ikan dan ukuran ikan yang ditebar. Ikan yang ditebar hendaknya bersifat
natif, dapat mencapai ukuran panen dalam waktu singkat, dan akumulasi biomassa
dapat terbentuk dengan cepat. Ikan yang ditebar hendaknya juga dapat dipanen
dengan mudah menggunakan alat tangkap pancing, dan tidak mengalami pemijahan
selama di perairan atau dapat dikontrol dengan monoseks dan hibridisasi. Ikan
ini juga hendaknya dapat dipelihara dengan jenis lain sehingga dapat
memaksimalkan pemanfaatan makanan dan ruang (Novita et al 2015).
Ukuran ikan yang ditebar juga
perlu diperhatikan. Jika diasumsikan ikan yang ditebar berukuran 25 g dan dapat
dipanen pada ukuran 250 g, maka jumlah ikan yang dapat ditebar adalah 15.602
ekor/tahun. Penebaran ikan dapat dilakukan 2 3 kali dalam setahun dengan
mengasumsikan ikan dapat dipanen pada umur 4 6 bulan. Penambahan jumlah ikan
yang ditebar ini dilakukan secara bertahap seiring dengan penambahan jumlah
keramba yang berkorelasi dengan jumlah fosfat yang terbuang ke perairan. Nilai
fosfat dapat digunakan untuk menentukan nilai klorofil yang nantinya dikonversi
menjadi produktivitas primer, yang kemudian digunakan untuk menduga jumlah ikan
yang dapat ditebar (Siregar et al 2015).
BAB 3
METODOLOGI
3.1 Waktu
dan Tempat
Praktikum
Fisiologi Hewan Air Tentang “Pengaruh Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis
Ikan” dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 5 September 2018 pukul 10.00 WIB
sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan (BDP) lantai
1, Jurusan Perikanan Fakultas Pertaian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2 Alat
dan Bahan
Alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah akuarium, kertas label gayung, DO meter, kamera, serta lap
atau tissue. sedangkan bahan yang digunakan ialah ikan (kelompok 1 ikan Platy 120
ekor, kelompok 2 ikan Nila 35 ekor, kelompok 3 ikan Lele 35 ekor).
3.3
Metode Percobaan
Praktikum ini menggunakan metode Rancangan
Acak Kelompok (RAK), yang menggunakan 3 taraf perlakuan, yaitu padat tebar 1
ekor/liter, padat tebar 2 ekor/liter, dan padat tebar 3 ekor/liter. Untuk ikan
platy menjadi 2 kali lipatnya. Pada perlakuan pertama (padat tebar 1
ekor/liter) akuarium diisi 10 liter air dan 18 ekor ikan platy, setiap 15 menit
dilakukan pengukuran DO selama 14 jam. Pada perlakuan 2 (padat tebar 2
ekor/liter) akuarium diisi 10 liter air dan 36 ekor ikan platy, setiap 15 menit
dilakukan pengukuran DO selama 14 jam. perlakuan 3 (padat tebar 3 ekor/liter) akuarium
diisi 10 liter air dan 54 ekor ikan platy, setiap 15 menit dilakukan pengukuran
DO selama 14 jam. Data dikelompokan tiap jam. Parameter yang diamati adalah tingkah
laku atau respon ikan, DO, dan jumlah ikan mati. Adapun prosedur nya dapat
dilihat pada diagram alir dibawah ini.
Padat tebar 1 ekor/liter
Siapkan akuarium yang sudah diberi 10
liter air
|
↓
|
Masukan 18 ekor ikan Platy pada akuarium
|
↓
|
Amati ikan setiap 15 menit selama 14
jam
|
↓
|
Lakukan pengukuran DO
|
Gambar 1. Diagram Alir Pengaruh
Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan dengan padat tebar 1 ekor/liter
Padat
tebar 2 ekor/liter
Siapkan akuarium kedua yang sudah diberi
10 liter air
|
↓
|
Masukan 36 ekor ikan Platy pada akuarium
|
↓
|
Amati ikan setiap 15 menit selama 14
jam
|
↓
|
Lakukan pengukuran DO
|
Gambar 2. Diagram Alir Pengaruh
Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan dengan padat tebar 2 ekor/liter
Padat
tebar 3 ekor/liter
Siapkan akuarium ketiga yang sudah
diberi 10 liter air
|
↓
|
Masukan 54 ekor ikan Platy pada akuarium
|
↓
|
Amati ikan setiap 15
menit selama 14 jam
|
↓
|
Lakukan
pengukuran DO
|
Gambar 3. Diagram Alir Pengaruh
Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan dengan padat tebar 3 ekor/liter
3.4 Metode
percobaan
Tabel 1. Rancangan Acak Kelompok (RAK)
A
|
B
|
Y..
|
|
1
|
0,001190476
|
0,001190476
|
0,002380952
|
2
|
0,001190476
|
0
|
0,001190476
|
3
|
0,001190476
|
0,001190476
|
0,002380952
|
Jumlah
|
0,003571429
|
0,002380952
|
0,005952381
|
3.5
Metode Analisis
Tabel
2. Tabel Anova
Anova:
Two-Factor Without Replication
|
||||||
SUMMARY
|
Count
|
Sum
|
Average
|
Variance
|
||
1
|
2
|
0,002381
|
0,00119
|
0
|
||
2
|
2
|
0,00119
|
0,000595
|
7,09E-07
|
||
3
|
2
|
0,002381
|
0,00119
|
0
|
||
A
|
3
|
0,003571
|
0,00119
|
0
|
||
B
|
3
|
0,002381
|
0,000794
|
4,72E-07
|
||
ANOVA
|
||||||
Source of Variation
|
SS
|
df
|
MS
|
F
|
P-value
|
F crit
|
Rows
|
4,72E-07
|
2
|
2,36E-07
|
1
|
0,5
|
19
|
Columns
|
2,36E-07
|
1
|
2,36E-07
|
1
|
0,42265
|
18,51282
|
Error
|
4,72E-07
|
2
|
2,36E-07
|
|||
Total
|
1,18E-06
|
5
|
||||
BAB 4
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hail dari
praktikum Fisiologi Hewan Air tentang padat tebar terhadap fisiologi ikan platy
adalah sebagai berikut:
Grafik 1.
Pengaruh DO terhadap SR pada akuarium pertama
Pengamatan pada akuarium satu,
dimana akuarium diletakan pada kondisi terkena cahaya matahari, didapatkan kadar
oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,2 mg/L pada jam ke 12 dengan
tingkat bertahan hidup 100% selama rentang waktu dua jam. Sedangkan kadar
oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 6,1. Pada akuarium
satu Tingkat bertahan hidup paling rendah terdapat pada jam ke 13 dengan SR 97%
pada saat DO nya 6,8 mg/L ikan mati satu.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa DO sangat mempengaruhi tingkat
bertahan hidup ikan platy (Rachmawati et al 2016).
Jumlah DO sangat mempengaruhi SR.
Jika DO tinggi maka ikan akan jarang ke permukaan untuk mengambil oksigen.
Sebaliknya, rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan harus memompa
sejumlah besar air ke permukaan untuk mengambil oksigen. Tidak hanya volume
besar yang dibutuhkan tetapi juga energy untuk pemompaan yang jauh lebih besar
karena air 800 lebih padat disbanding udara. Insang juga harus mengeluarkan
ion-ion berlebih yang masuk kedalam tubuh. Semakin besar DO maka tingkat
bertahan hidup ikan juga akan semakin besar (Novita et al 2015).
Grafik 2.
Pengaruh DO terhadap SR pada akuarium dua
Pengamatan pada akuarium kedua,
dimana akuarium diletakan pada kondisi terkena cahaya matahari, didapatkan
kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 6,8 mg/L pada jam ke 14
dengan tingkat bertahan hidup 100% selama rentang waktu dua jam, karena tidak
ada ikan yang mati. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam
keenam dengan DO 6,1 mg/L. Pada akuarium dua Tingkat bertahan hidup paling
rendah terdapat pada jam ke 3 dengan SR 98,5%
pada saat DO nya 6,3 mg/L ikan ada yang mati satu (Siregar
et al 2015).
Grafik 3.
Pengaruh DO terhadap SR pada akuarium tiga
Pengamatan pada akuarium ketiga,
dimana akuarium diletakan pada kondisi bawah dan sedikit terkena cahaya
matahari, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,0 mg/L
pada jam ke 12 dengan tingkat bertahan hidup 100% selama rentang waktu dua jam,
karena tidak ada ikan yang mati pada waktu tersebut. Sedangkan kadar oksigen
paling rendah terdapat pada jam kelima dengan DO 5,9 mg/L. Pada akuarium tiga
Tingkat bertahan hidup paling rendah terdapat pada jam ke 9 dengan SR 99% pada saat DO nya 6,5 mg/L ikan ada yang mati
satu (Rachmawati
et al 2016).

Grafik 4.
Pengaruh DO terhadap Laju Kematian Ikan pada akuarium 1
Pengamatan pada akuarium satu,
didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,2 mg/L pada jam
ke 12 dengan laju kematian 0 karena tidak ad
a ikan yang mati selama rentang waktu dua jam tersebut. Sedangkan kadar
oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 6,1. Pada akuarium
satu laju kematian ikan paling tinggi terdapat pada jam ke 13 dengan LKI 0,0083
dimana ikan platy mati satu pada pukul 00.10 WIB saat DO nya 6,8 mg/L (Rachmawati
et al 2016).
Grafik 5. Pengaruh DO terhadap
Tingkat Kematian Ikan pada akuarium 2
Pengamatan pada akuarium dua,
didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 6,8 mg/L pada jam
ke 14 dengan laju kematian 0 karena tidak ada ikan yang mati selama waktu
pengamatan tersebut. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam
keenam dengan DO 6,1 mg/L. Pada akuarium dua laju kematian ikan paling tinggi terdapat
pada jam ke 3 dengan laju kematian ikan sebesar 0,0083 dimana ikan yang mati
berjumlah satu ikan mati satu pada pukul 13.41 WIB pada saat DO nya 6,8 mg/L
(Timang et al 2010).

Grafik 6. Prngaruh DO terhadap
Laju Kematian Ikan pada akuarium 3
Pengamatan pada akuarium tiga,
didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,0 mg/L pada jam
ke 12 dengan laju kematian 0 karena tidak ada ikan yang mati selama waktu
pengamatan tersebut. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam
keenam dengan DO 5,9 mg/L. Pada akuarium tiga laju kematian ikan paling tinggi
terdapat pada jam ke 9 dengan laju kematian ikan sebesar 0,0083 dimana ikan
platy yang mati berjumlah satu pada pukul 20.00 WIB ketika DO nya 6,5 mg/L (Rachmawati
et al 2016).
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Ikan pada akuarium ketiga lebih
rendah tingkat bertahan hidupnya dari pada akuarium pertama dan kedua. Hal ini
disebabkan jumlah ikan yang ditebar pada akuarium tiga lebih banyak. Pada
pengamatan ini diketahui DO terbesar terdapat pada akuarium satu yaitu 7,2 mg/L
dan DO terendah terdapat pada akuarium 3
yaitu 5,9 mg/L. Sedangkan laju kematian ikan setiap akuariumnya sama yaitu
0,0083 karena disetiap akuarium ikan yang mati hanya satu, yang membedakan
hanya waktu kematiannya saja.
Jumlah padat tebar ikan pada suatu akuarium atau kolam
sangat mempengaruhi kondisi fisiologis ikan tersebut. Semakin banyak ikan yang
ditebar per satuan luas atau volume maka akan semakin tinggi pula saingan antar
ikan untuk mendapatkan pakan, oksigen, dan zat terlaur lainnya. Jumlah DO
sangat mempengaruhi tingkat bertahan hidup ikan dan laju kematian ikan. Jika DO
tinggi maka ikan akan jarang ke permukaan untuk mengambil oksigen. Sebaliknya,
rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan harus memompa sejumlah
besar air ke permukaan untuk mengambil oksigen. Tidak hanya volume besar yang
dibutuhkan tetapi juga energy untuk pemompaan yang jauh lebih besar karena air
800 lebih padat disbanding udara. Insang juga harus mengeluarkan ion-ion
berlebih yang masuk kedalam tubuh. Semakin besar DO maka tingkat bertahan hidup
ikan juga akan semakin besar.
5.2.
Saran
Sebaiknya digunakan ikan yang lebih besar agar dapat teramati
dengan jelas yang terjadi pada tubuh ikan selama proses pengamatan. Serta pada
saat proses pengamatan praktikan yang sebentar lagi kebagian jadwal mengamati
ikan sebaiknya tetap berada di lingkungan sekitar akuarium agar tidak telat
serta tidak digantikan oleh temannya yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Karlyssa1,
F.J., Irwanmay. Leidonald, R. 2013. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Kelangsungan Hidup Dan
PEertumbuhan Ikan Nila Gesit (Oreochromis
niloticus). Jurnal Sumberdaya Perairan,
Universitas Sumatera Utara. 2 (1).
Legovic,
T. Palerud, R., Christensen, G. White, P. 2008. A Model to Estimate Aquaculture Carring Capacity in Three
Areas of the Philipines. Science Dilman. 20 (2): 31-40.
Muhlisin.
Leksono, S.M. Bahrudin, D.V. 2015. Daya
Dukung Lingkungan Dalam Pengembangan
Pusat Inovasi Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (PI UMKM) Peternakan Domba-Kambing Di Kabupaten Pandeglang ProvinsiI Banten. Jurnal Bina Praja. Volume 7 No. 1 Hal: 37 – 50.
Novita,
M.Z., Soewardi, K., Pratiwi,N.K.M. 2015. Penentuan Daya Dukung Perairan untuk Perikanan Alami (Studi
Kasus: Situ Cilala, Kabupaten Bogor). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI),
Vol. 20 (1) Hal: 66-71
Rachmawati,
D. Samidjan, L. dan Pinandoyo. 2016. Analisis Tingkat Kecerahan Warna Ikan Platy Pedang (Xiphophorus helleri)
Melalui Penambahan Astaxanthin Dengan
Dosis Berbeda Pada Pakan Komersial. Jurnal
Pena Akuatika. Volume 13 No. 1
Siregar,
R., Eriyusni. Lesmana, I. 2015. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan Ikan Redfin (Epalzeorhynchos
frenatum). Jurnal Sumberdaya Perairan, Universitas Sumatera Utara. 5 (1).
Timang,
Y., Muhammad, R.A., Rispa, P. 2010. Mekanisme Pergerakan Sirip-sirip Ikan.Universitas Hasanudin: Makasar
Wardoyo,
S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air.
IPB:Bogor.
Lampiran 1. Perhitungan
FK =
(∑Y..)2 / (t.r)
= (0,002380952 +
0,001190476 + 0,002380952)2 / (2*3)
= 5,90514E-06
JKT =
∑(Yij2)-FK
= (0,001190476)2
+ (0,001190476)2 + (0,001190476)2 + (0,001190476)2
+ (0)2 + (0,001190476)2 – (5,90514E-06)
= (7,08617E-06)
- (5,90514E-06)
=1,18103E-06
JKP =
(∑Yi)2 /r – FK
=
(0,002380952 + 0,001190476 + 0,002380952 )2 /2 - 5,90514E-06
=
4,72411E-07
JKK =
(∑Yi)2 /t – FK
=
(0,002380952 + 0,001190476 + 0,002380952 )2 /3 - 5,90514E-06
=
2,36206E-07
JKS =
JKT-JKK-JKP
=
1,18103E-06 - 2,36206E-07 - 4,72411E-07 = 4,72411E-07
DBP =
(r-1) = (3-1) =2
DBK =
(t-1) = (2-1) =1
DBS =
(t-1) * (t-1) = (3-1) * (2-1) =2
DBT =
(t*r)-1= (3*2)-1= (6-1) = 5
KTK =
JKK/DBK = 2,36206E-07 / 1 = 2,36206E-07
KTP =
JKP/DBP = 4,72411E-07 / 2 = 2,36206E-07
KTS =
JKS/DBS = 4,72411E-07 / 2 = 2,36206E-07
F Hit =
KTK/KTS = 2,36206E-07 / 2,36206E-07 = 1
F Hit =
KTP/KTS = 2,36206E-07 / 2,36206E-07 = 1
F Tab =
19 (5%)
F Tab =
18,51282 (5%)
Lampiran
3. Tabel pengamatan
Tabel
3. Pengamatan ikan platy
Menit
ke -
|
Respon
(Tingkah Laku)
|
DO
(mg/L)
|
Ikan
mati
|
11.15-11.30
|
Ikan
tenang cenderung aktif.
|
6,5
|
0
|
Ikan
tenang cenderung aktif.
|
6,4
|
0
|
|
Ikan
lebih pasif dari akuarium satu.
|
6.7
|
0
|
|
11.30-11.45
|
Ikan
cederung pasif, berada di bawah, meneluarkan kotoran,dan operculum bergerak
cepat.
|
6,4
|
0
|
Ikan
aktif bergerak, berada di atas, dan operculum bergerak cepat.
|
6,5
|
0
|
|
Ikan
menyebar, aktif, dan operculum bergerak cepat.
|
6.4
|
0
|
|
11.45-12.00
|
Ikan
cenderung pasif, normal, dan berkelompok.
|
6,2
|
0
|
Ikan
normal, lebih aktif bergerak, berkelompok, dan operculumnya normal
|
6,5
|
0
|
|
Bergerak
aktif, ikan menyebar tiap sisi, dan ada yang berenang dibawah.
|
6,7
|
0
|
|
12.00-12.15
|
Ikan
cenderung diam di dasar akuarium dan bergerombol
|
6,3
|
0
|
Ikan
cenderung mengambil O2 ke permukaan.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
menyebar, cenderung mendekati dinding akuarium.
|
6,7
|
0
|
|
12.15-12.30
|
Ikan
cenderung diam, dan operculum bergerak normal.
|
6,9
|
0
|
Ikan
cenderung aktif, dan berada di permukaan.
|
6,5
|
0
|
|
Ikan
menyebar di seluruh sisi akuarium, pererakannya cenderung aktif.
|
6,6
|
0
|
|
12.30-12.45
|
Ikan
cenderung pasif, dan bergerak normal.
|
6,4
|
0
|
Ikan
pasif, operculum bergerak normal, dan ikan cenderung bergerombol di bawah
permukaan.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
berenang diseluruh sisi akuarium dan bergerak dengan normal..
|
6,4
|
0
|
|
12.45-13.00
|
Ikan
cenderung pasif.
|
6,6
|
0
|
Ikan
berkumpul dan berenang ke sisi akuarium.
|
6,7
|
0
|
|
Pergerakan
ikan melambat, berpencar, dan berada di permukaan.
|
6,7
|
0
|
|
13.00-13.15
|
Ikan
menyebar dan bergerombol, pergerakannya cenderung pasif.
|
6,4
|
0
|
Ikan
berkumpul di satu sisi akuarium, dan cenderung diam.
|
6,4
|
0
|
|
Pergerakan
ikan aktif, menyebar ke seluruh sisi akuarium, dan berada di permukaan.
|
6,6
|
0
|
|
13.15-13.30
|
Ikan
cenderung pasif dan bergerombol.
|
6,6
|
0
|
Ikan
bergerombol, cenderung diam dan berada di permukaan.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
menyebar di sisi kauarium dan pergerakannya aktif.
|
6,4
|
0
|
|
13.30-13.45
|
Ikan
cenderung diam dan berkumpul disisi akuarium.
|
6,6
|
0
|
Ikan
berkumpul disisi akuarium dan cenderung di permukaan.
|
6,5
|
1
(13.41)
|
|
Ikan
bergerak aktif, menyebar seakan menuju permukaan.
|
6,4
|
0
|
|
13.45-14.00
|
Ikan
berada di pojok akuarium.
|
6,5
|
0
|
Ikan
berada di salah satu sisi akuarium.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
menyebar dan pergerakannya aktif.
|
6,5
|
0
|
|
14.00-14.15
|
Ikan
pasif dan mulai menyebar ke semua sisi akuarium.
|
6,7
|
0
|
Ikan
sedikit aktif dan berada di satu sisi akuarium.
|
6,7
|
0
|
|
Ikan
masih aktif dan menyebar kesemua sisi akuarium.
|
6,9
|
0
|
|
14.15-14.30
|
Ikan
bergerombol ke bawah dan ikan pasif.
|
6,7
|
0
|
Ikan
berpencar berada di permukaan dan pasif.
|
6,5
|
0
|
|
Ikan
masih bergerak aktif.
|
6,7
|
0
|
|
14.30-14.45
|
Ikan
menyebar rata atas bawah dan mulai aktif beberapa.
|
6,1
|
0
|
Beberapa
ikan aktif dan merata penyebarannya.
|
5,7
|
0
|
|
Ikan
aktif bergerak.
|
5,7
|
0
|
|
14.45-15.00
|
Ikan
bergerombol, diam (pasif), dan beberapa
berada di dasar akuarium.
|
5,7
|
0
|
Ikan
menyebar, cenderun menghindari cahaya, dan pasif.
|
5,4
|
0
|
|
Ikan
cenderung bergerak normal dan beberapa
mulai mengambil O2 permukaan.
|
5,3
|
0
|
|
15.00-15.15
|
Ikan
cenderung diam dan berada di bawah permukaan.
|
6,2
|
0
|
Ikan
bergerak normal, beberapa mencari makan di dasar akuarium.
|
6,4
|
0
|
|
Ikan
bergerak normal, beberapa mulai mengambil O2 permukaan, dan ikan berpencar.
|
6,4
|
0
|
|
15.15-15.30
|
Ikan
menyebar, beberapa ikan lincah tapi lebih banyak yang pasif, dan berada di
bawah permukaan.
|
6,3
|
0
|
Ikan
menyebar, beberapa ikan lincah, dan ikan berada ditengah.
|
6,3
|
0
|
|
Ikan
lincah (aktif) dan menyebar rata.
|
6,1
|
0
|
|
15.30-15.45
|
Ikan
menyebar dan pergerakannya cepat, ikan menambil nafas ke permukaan.
|
5,6
|
0
|
Ikan
cenderung pasif, ikan bergerombol, operculum bergerak cepat, dan sebagian
ikan mengabil nafas ke permukaan.
|
5,7
|
0
|
|
Ikan
menyebar ke sisi akuarium dan sebagian mengambil O2 permukaan.
|
5,8
|
0
|
|
15.45-16.00
|
Ikan
menyebar dan pergerakannya cepat, operculum bergerak dan cepat, beberapa ikan
mengambil nafas ke permukaan.
|
5,5
|
0
|
Ikan
cenderung pasif, bergerombol ke sisi akuarium, dan sebagian mengambil O2 ke permukaan.
|
5,4
|
0
|
|
Ikan
menyebar ke sisi akuarium, kebanyakan ikan mengambil O2 ke permukaan.
|
5,6
|
0
|
|
16.00-16.15
|
Ikan
menyebar,pergerakannya cepat, ikan cenderung
bergerak denan pasangan.
|
5,8
|
0
|
Ikan
cenderung pasif, bergerombol,dan sebagiannya meyebar ke sisi akuarium.
|
6,0
|
0
|
|
Ikan
meyebar ke sisi akuarium, kebanyakan ikan mengambil O2 ke permukaan.
|
5,9
|
0
|
|
16.15-16.30
|
Hampir
semua ikan berada di dasar akuarium dan pererakannya lambat.
|
6,2
|
0
|
Ikan
tidak diam didasar akuarium,tidak terlalu pasif.
|
6,5
|
0
|
|
Ikan
tidak terlalu pasif, bergerak tidak lambat, beberapa mengambil O2 ke permukaan.
|
6,3
|
0
|
|
16.30-16.45
|
Ikan
berenang ke permukaan.
|
6,5
|
0
|
Ada
ikan yang memijah didasar akuarium.
|
6,1
|
0
|
|
Ikan
berenang menyebar ke sisi akuarium.
|
5,8
|
0
|
|
16.45-17.00
|
Ikan
berada di dasar akuarium dan ikan pasif
|
5,8
|
0
|
Ikan
menghindari cahaya, berenang sedikit aktif.
|
6,0
|
0
|
|
Beberapa
ikan mengambil O2 ke
permukaan.
|
5,7
|
0
|
|
17.00-17.15
|
Ikan
lebih banyak bergerak dan beberapa ada yang ke permukaan.
|
6,6
|
0
|
Bererak
sedikit aktif.
|
6,1
|
0
|
|
Ikan
menyebar ke semua sisi.
|
6,0
|
0
|
|
17.15-17.30
|
Ikan
bergerak aktif.
|
6,4
|
0
|
Pergerakan
ikan pasif dan ikan bergerombol.
|
6,3
|
0
|
|
Pergerakan
ikan pasif.
|
6,2
|
0
|
|
17.30-17.45
|
Ikan
cenderung diam.
|
6,2
|
0
|
Ikan
lebih sering bergerombol.
|
5,9
|
0
|
|
Ikan
menyebar ke seluruh sisi akuarium.
|
5,9
|
0
|
|
17.45-18.00
|
Gerakkan
ikan pasif, bebarapa ikan diam di dasar akuarium.
|
5,8
|
0
|
Ikan
bergerombol dipojok akuarium.
|
5,9
|
0
|
|
Ikan
menyebar, beberapa ikan naik ke
permukaan.
|
5,9
|
0
|
|
18.00-18.15
|
Beberapa
ikan mengambil O2 ke
permukaan.
|
6,3
|
0
|
Ikan
bergerombol didasar dan bergerak pasif.
|
6,2
|
0
|
|
Semua
ikan berada di dasar akuarium, ikan bererak pasif.
|
6,1
|
0
|
|
18.15-18.30
|
Ikan
pasif dan berada di dasar akuarium.
|
6,4
|
0
|
Ikan
mulai berpencar ke semua sisi.
|
6,3
|
0
|
|
Hampir
semua ikan berada di permukaan dan ikan bergerak pasif.
|
6,2
|
0
|
|
18.30-18.45
|
Ikan
berada di dasar akuarium.
|
6,1
|
0
|
Ikan
cenderung diam, berada di dasar akuarium.
|
6,1
|
0
|
|
Ikan
menyebar ke seluruh penjuru akuarium.
|
6,2
|
0
|
|
18.45-19.00
|
Ikan
menyebar ke sisi akuarium dan cenderung pasif.
|
6,3
|
0
|
Ikan
bergerombol di dasar akuarium dan ikan cenderung pasif.
|
6,4
|
0
|
|
Ikan
menyebar ke sisi akuarium dan cenderung pasif.
|
6,2
|
0
|
|
19.00-19.15
|
Ikan
menyebar ke sisi akuarium dan cenderung pasif
|
6,4
|
0
|
Ikan
bergerak normal dan menyebar ke semua sisi akuarium.
|
6,2
|
0
|
|
Ikan
bererak menuju dasar.
|
5,5
|
0
|
|
19.15-19.30
|
Ikan
berkumpul di dasar, cenderung pasif.
|
6,7
|
0
|
Ikan
menyebar dan gerakan ikan cenderung pasif.
|
6,5
|
0
|
|
Ikan
menyebar dan gerakan ikan pasif.
|
6,5
|
0
|
|
19.30-19.45
|
Ikan
bergerak pasif, berada di dasar akaurium.
|
6,6
|
0
|
Ikan
banyak mengeluarkan kotoran dan sebaian berada di dasar permukaan.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
bergerak pasif dan berenang menuju permukaan.
|
6,5
|
0
|
|
19.45-20.00
|
Ikan
berkumpul di dasar dan cenderung diam.
|
6,2
|
0
|
Ikan
menyebar dan gerakannya pasif.
|
6,6
|
0
|
|
Mulut
dan operculum ikan bergerak cepat.
|
6,7
|
1
(20.00)
|
|
20.00-20.15
|
Ikan
menyebar dan cenderung pasif.
|
6,5
|
0
|
Ikan
bergerombol dan cenderung berada di tengah-tengah akuarium.
|
6,2
|
0
|
|
Ikan
bergerombol, mengeluarkan banyak feses.
|
6,5
|
0
|
|
20.15-20.30
|
Ikan
bergerak pasif, menyebar, dan cenderun berada di dasar.
|
6,7
|
0
|
Ikan
menyebar dan cenderun menuju ke
permukaan.
|
6,5
|
0
|
|
Ikan
bererak aktif dan cenderun menuju permukaan.
|
6,7
|
0
|
|
20.30-20.45
|
Ikan
menyebar di dasar akuarium dan ikan cenderung pasif.
|
6,7
|
0
|
Ikan
menyebar di dasar akuarium dan ikan cenderung pasif.
|
7,0
|
0
|
|
Ikan
bergerak pasif dan berada menuju permukaan.
|
7,0
|
0
|
|
20.45-21.00
|
Ikan
berpencar, dan cenderung naik le permukaan.
|
6,6
|
0
|
Ikan
lebih banyak berada di dasar akuarium
|
6,3
|
0
|
|
Ikan
pasif, dan cenderung berada di permukaan
|
6,3
|
0
|
|
21.00-21.15
|
Ikan
cukup aktif, dan ikan menyebarke beberapa sisi.
|
6,6
|
0
|
Ikan
cukup aktif, dan berada di dasar akuarium.
|
6,4
|
0
|
|
Ikan
aktif, dan lebih sering dipermukaan
|
6,5
|
0
|
|
21.15-21.30
|
Ikan
bergerak ke permukaan mencari O2.
|
6,5
|
0
|
Sebagian
ikan berada di dasar, dan ikan menyebar.
|
6,5
|
0
|
|
Sebagian
ikan dipermukaan mencari O2 dan makanan
|
6,5
|
0
|
|
21.30-21.45
|
Ikan
berada didasar, mencari makan, dan beberapa ikan kepermukaan.
|
6,5
|
0
|
Ikan
bergerombol dan pergerakkannya pasif.
|
6,4
|
0
|
|
Sebagian
ikan berada di permukaan, dan operculum bergerak dengan cepat
|
6,4
|
0
|
|
21.45-22.00
|
Ikan
pasif, meneluarkan feses, dan berada di dasar akuarium.
|
6,9
|
0
|
Ikan
pasif, menyebar, dan feses dimakan oleh beberapa ikan.
|
7,3
|
0
|
|
Ikan
pasif, dan berada di permukaan.
|
7,1
|
0
|
|
22.00-22.15
|
Ikan
pasif, feses makin banyak, dan ikan bergerak kepermukaan untuk mengambil O2.
|
7,5
|
0
|
Ikan
pasif, sebagian ikan menambil O2 ke permukaan.
|
7,1
|
0
|
|
Ikan
pasif, feses makin banyak, dan ikan bergerak kepermukaan untuk mengambil O2.
|
7,2
|
0
|
|
22.15-22.30
|
Sebaian
ikan berenang ke sisi bawah akuarium.
|
7,5
|
0
|
Ikan
bergerombol di dasar.
|
7,3
|
0
|
|
Ikan
menyebar, dan cenderung di permukaan.
|
7,0
|
0
|
|
22.30-22.45
|
Ikan
pasif, dan berada di dasar akuarium.
|
7,6
|
0
|
Ikan
berkumpul di permukaan.
|
7,3
|
0
|
|
Ikan
berpencar, dan berada di permukaan.
|
7,5
|
0
|
|
22.45-23.00
|
Ikan
berada di dasar, dan lapar.
|
7,6
|
0
|
Semua
ikan berada di permukaan.
|
7,2
|
0
|
|
Semua
ikan berada di permukaan, dan aktif.
|
7,1
|
0
|
|
23.00-23.15
|
Ikan
berada di dasar, dan aktif.
|
7,1
|
0
|
Ikan
berada di permukaan, dan gerakannya pasif.
|
7,1
|
0
|
|
Ikan
berada di permukaan, dan gerakannya aktif.
|
7,0
|
0
|
|
23.15-23.30
|
Ikan
berada di dasar, dan mencari makan.
|
7,0
|
0
|
Ikan
berada di permukaan, dan pergerakkannya lambat.
|
6,9
|
0
|
|
Ikan
berada di permukaan, dan pergerakkannya lambat.
|
6,9
|
0
|
|
23.30-23.45
|
Ikan
berada di dasar, dan mulut ikan mengetuk-ngetuk dasar akuarium.
|
7,0
|
0
|
Ikan
berada di permukkan, untuk mengambil O2.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
pergerakkannya lambat, dan menyebar ke semua sisi.
|
6,7
|
0
|
|
23.45-00.00
|
Ikan
berada di dasar,dan mulai agresif.
|
6,5
|
0
|
Ikan
mulai berada di permukaan, dan pergekarakkan mulutnya lambat.
|
6,6
|
0
|
|
Ikan
berada di permukaan, dan cenderung diam
|
6,4
|
0
|
|
00.00-00.15
|
Ikan
menyebar, dan pererakkannya lambat
|
6,5
|
1
(00.10)
|
Ikan
bergerombol, berada di permukaan, dan pergerakkannya lambat
|
6,3
|
0
|
|
Ikan
berada di dasar dan menyebar
|
6,5
|
0
|
|
00.15-00.30
|
Ikan
mulai bernang kepermukaan, dan ikan menyebar kesegala sisi.
|
6,8
|
0
|
Ikan
bergerak lebih cepat dari pada ikan yang berada diakuarium ke-1, dan ikan menyebar
ke semua sisi.
|
6,9
|
0
|
|
Ikan
bergerombol menuju sudut akuarium, dan ikan berenang ke sudut depan akuarium.
|
6,5
|
0
|
|
00.30-00.45
|
Ikan
menyabar ke segala arah, dan gerakan ikan pasif.
|
5,1
|
0
|
Ikan
berenang ke permukaan dan pergerakannya cenderung pasif.
|
6,7
|
0
|
|
Ikan
menyebar, dan cenderung pasif.
|
6,9
|
0
|
|
00.45-01.00
|
Pergerakan
ikan cukup lambat, dan ikan menyebar.
|
7,4
|
0
|
Pergerakan
ikan lambat, dan menyebar ke seluruh akuarium.
|
7,4
|
0
|
|
Pergerakan
ikan pasif, dan ikan menyebar kesemua sisi akuarium.
|
5,4
|
0
|
|
01.00-01.15
|
Ikan
berada di dasar akuarium, dan cenderung pasif.
|
7,1
|
0
|
Ikan
cenderung pasif, dan menyebar ke segala sisi akuarium.
|
6,9
|
0
|
|
Ikan
berada di permukaan, dan cenderung pasif
|
6,4
|
0
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar