Senin, 29 Oktober 2018

LAPORAN PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PROSES FISIOLOGIS IKAN


 Praktikum materi 2 Fisiologi Hewan Air

PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PROSES FISIOLOGIS IKAN PLATY (Xiphophorus maculates)




 


Siti Fatimah
4443170005
Kelompok 1 



JURUSAN PERIKANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2018



 

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Padat tebar merupakan jumlah ikan yang dibudidayakan dalam suatu lingkungan perairan per satuan luas atau kapasitas wilayah tersebut.  Padat penebaran ikan erat kaitannya dengan produksi dan pertumbuhan ikan. Kepadatan ikan yang terlalu tinggi dapat menurunkan ketersediaan pakan dan oksigen untuk setiap individu, sedangkan akumulasi bahan buangan metabolik ikan akan semakin tinggi. Padat tebar yang tinggi mengakibatkan adanya kompetisi ruang, oksigen dan makanan sehingga terjadi variasi ukuran, pertumbuhan ikan melambat karena ikan kekurangan pakan dan tingkat kelangsungan hidup rendah. Peningkatan kepadatan ikan tanpa disertai dengan peningkatan jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air yang terkontrol akan menyebabkan penurunan pertumbuhan ikan (Novita et al 2015).
Peningkatan padat penebaran juga akan mengganggu proses fisiologis dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak yang pada akhirnya akan dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan. Akibat lanjut dari proses tesebut adalah penurunan pemanfaatan makanan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup mengalami penurunan. Sehingga peningkatan padat penebaran harus sesuai  dengan daya dukung. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor  salah satunya adalah padat penebaran. Padat penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup yang mengarah kepada tingkat produksi (Siregar et al 2015).
Pengaturan tinggi rendahnya padat tebar pada budidaya ikan akan menentukan efektivitas penggunaan air dan ruang dalam produksi perunitnya. Permasalahan padat tebar ini sangat kompleks karena dapat memepengaruhi kebiasaan dan fisiologi ikan. Perubahan kebiasaan dikarenakan kebutuhan ikan akan ruang sedangkan kebutuhan fisiologi berhubungan dengan kebutuhan air. Padat tebar dapat mempengaruhi kesehatan, tingkah laku, pertumbuhan, kualitaas ikan, serta kualitas air. Terdepat beberapa faktor yang mempengaruhi diterimanya padat tebar yang tepat antara lain kadar oksigen, ukuran ikan, suhu air, aliran air, tersedianya ruang, dan kadar ammonia. Hasil penelitian menunjukan bahwa kenaikan padat tebar ikan akan menurunkan laju pertumbuhan ikan. Padat tebar ikan berbeda-beda tergantung jenis ikan, ukuran ikan, nutrisi, dan kualirtas air (Karlyssa et al 2013).
Oleh karena itu perlu dilakuakn penelitian mengenai pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap proses fisiologis dan pertumbuhan ikan Platy (Xiphophorus maculates), meliputi laju pertumbuhan, panjang ikan, morfometrik, dan tingkah lakunya (Karlyssa et al 2013).

1.2  Tujuan
Praktikum pengaruh padat tebar terhadap proses fisiologi ikan bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh perubahan padat tebar terhadap proses fisiologis ikan (respirasi).



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Platy
Menurut Rachmawati et al (2016) Ikan Platy (Xiphophorus maculates) merupakan ikan jenis livebearing dan masuk kedalam family poecilliidae, yang merupakan keluarga terbesar dari empat family yang berisi hampir 200 spesies dan termasuk ikan peliharaan akuarium yang banyak digemari. Platy adalah ikan hias yang populer karena relative kokoh, mudah untuk dirawat, dan juga mudah bertelur dipenangkaran. Ikan ini tidak akan tumbuh lebih besar dari 2,5 inci dan platy tunggal dapat disimpan dalam akuarium. Menurut Merie (2010), klasifikasi ikan platy adalah sebagai berikut:
Kingdom               : Animalia
Filum                     : Chordata
Kelas                     : Actinopterygii
Ordo                      : Cyprinodontiformes
Famili                    : Poecilliidae
Genus                    : Xiphophorus
Spesies                  : Xiphophorus maculates
Ikan platy berasal dari Amerika Tengah dan Utara. Ikan platy dapat hidup pada PH 7,0 – 8,0, dan pada suhu 20-30⁰C. Terdapat beberapa jenis platy yang berbeda, seperti platy wagtail umum berwarna merah, sunset platy, variatus platy, dan tuxedo Platy. Sedangkan bentuk varian warnanya seperti spotted, gold comet, red wag, black, blue coral, leopard, dan lainnya. Platy akan hidup jika disimpan dalam lingkungan air yang basa, ikan ini juga memungkinkan hidup tanpa makanan, tetapi tetap saja ia akan hidup lebih baik jika diberi pakan. Ikan ini sangat mudah beradaptasi dan memiliki toleransi yang baik dalam berbagai kondisi lingkunagn. Platy menyukai habitat dengan banyak tanaman, karena ikan ini cenderung berenang dan berkembang biak diantara tanaman. Membedakan ikan platy jantan dan betina sangatlah  mudah. Ikan jantan biasanya berbadan ramping, pada sirip tengah bawah berbentuk lancip atau runcing, dan warna luar lebih menarik. Sedangkan ikan betina badannya relative gemuk, pada sirip tengah bagian bawah berbentuk bulat atau mengembang, dan warna luar kurang menarik (Rachmawati et al 2016).

2.2 Carring Capacity
Menurut Legovic et al (2008) Carring Capacity atau daya dukung lingkungan merupakan batas atas dari pertumbuhan suatu populasi, dimana jumlah populasi dapat tumbuh dengan baik. Daya dukung juga dapat dikatakan sebagai produksi maksimum dari suatu spesies atau populasi  dimana jumlah populasi tersebut tidak dapat lagi didukung  oleh sarana, sumberdaya dan lingkungan yang ada. Daya dukung dapat dibagi menjadi empat, yaitu fisik, produksi, ekologi, dan sosial. Secara ekologi, daya dukung merupakan tingkat suatu proses atau peubah yang dapat berubah dalam suatu sistem, namun tidak membuat struktur dan fungsinya melebihi batas tertentu yang dapat diterima. Daya dukung ditentukan oleh kemampuan lingkungan menopang ekosistem, meliputi produktivitas primer dan jenis ikan, serta ketersediaan nutrien.
Pertumbuhan akan terhenti saat mencapai carrying capacity jika ketersediaan pakan hanya cukup untuk pemeliharaan tubuh, namun tidak mencukupi untuk pertumbuhan. Tingkat potensial pertumbuhan terhadap critical standing crop (CSC) harus terjaga dengan meningkatkan jumlah pakan atau dengan penambahan food suplement. Cara lain untuk menjaga tingkat potensial pertumbuhan adalah dengan mengurangi tingkat kepadatan (Legovic et al 2008).
Daya dukung adalah jumlah atau kuantitas maksimum ikan yang dapat didukung oleh suatu badan air dalam jangka panjang, yang dipengaruhi oleh waktu pembilasan (flushing time), volume badan air, dan beban limbah yang masuk ke perairan. Daya dukung untuk kegiatan pemeliharaan ikan merupakan daya atau kekuatan suatu perairan dalam menampung jumlah ikan tertentu pada lingkungan tertentu untuk dapat memenuhi kebutuhan populasi ikan yang dipelihara tanpa menurunkan kualitas perairan. Penentuan daya dukung perairan biasanya didasarkan kepada unsur bahan pencemar, khususnya fosfor dan nitrogen, yang terdapat pada pakan yang masuk ke perairan. Unsur P dan N merupakan unsure yang memengaruhi kesuburan perairan, namun P lebih sering menjadi penyebab utama. Hal ini dikarenakan N dapat mengalami denitrifikasi sehingga larut di dalam air, berbeda halnya dengan P yang dapat mengendap dan terakumulasi di sedimen. Selain itu, fosfat merupakan jenis limbah yang banyak dihasilkan dari kegiatan keramba di perairan tawar dibandingkan dengan nitrogen. Oleh karena itu, penentuan daya dukung ikan alami dilakukan dengan pendekatan produktivitas primer, diperoleh dari nilai klorofil yang merupakan gambaran kondisi fosfat di perairan (Muhlisin et al 2015).

2.3 Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan Ikan
Peningkatan padat penebaran akan mengganggu proses fisiologis dan tingkah laku ikan terhadap ruang gerak yang pada akhirnya akan dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan. Akibat lanjut dari proses tesebut adalah penurunan pemanfaatan makanan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup mengalami penurunan. Sehingga peningkatan padat penebaran harus sesuai  dengan daya dukung. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor  salah satunya adalah padat penebaran. Padat penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan hidup yang mengarah kepada tingkat produksi (Wardoyo 1975).
 Permasalahan yang timbul akibat ikan ditebar dalam keadaan padat adalah kompetisi untuk mendapatkan pakan dan ruang gerak. Perbedaan dalam memanfaatkan pakan dan ruang gerak mengakibatkan pertumbuhan ikan bervariasi. Dan jika kualitas air sebagai media hidup bagi ikan memburuk dapat menurunkan pertumbuhan ikan bahkan dapat menyebabkan menurunnya kelangsungan hidup ikan/kematian. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menjelaskan pengaruh padat penebaran terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan (Novita et al 2015).
Peningkatan padat penebaran akan menurunkan nilai oksigen terlarut akibat tingginya kebutuhan oksigen karena proses respirasi. Proses respirasi menghasilkan CO2 yang larut dalam air. Semakin tinggi CO2 menyebabkan penurunan pH. Selain itu peningkatan padat tebar juga mengakibatkan peningkatan kandungan amoniak akibat sisa metabolisme dan sisa pakan yang terdekomposisi. Jika faktor-faktor tersebut dapat dikendalikan maka peningkatan kepadatan akan mungkin dilakukan tanpa menurunkan laju pertumbuhan ikan (Wardoyo 1975).
Penebaran ikan perlu memerhatikan jenis ikan dan ukuran ikan yang ditebar. Ikan yang ditebar hendaknya bersifat natif, dapat mencapai ukuran panen dalam waktu singkat, dan akumulasi biomassa dapat terbentuk dengan cepat. Ikan yang ditebar hendaknya juga dapat dipanen dengan mudah menggunakan alat tangkap pancing, dan tidak mengalami pemijahan selama di perairan atau dapat dikontrol dengan monoseks dan hibridisasi. Ikan ini juga hendaknya dapat dipelihara dengan jenis lain sehingga dapat memaksimalkan pemanfaatan makanan dan ruang (Novita et al 2015).
Ukuran ikan yang ditebar juga perlu diperhatikan. Jika diasumsikan ikan yang ditebar berukuran 25 g dan dapat dipanen pada ukuran 250 g, maka jumlah ikan yang dapat ditebar adalah 15.602 ekor/tahun. Penebaran ikan dapat dilakukan 2 3 kali dalam setahun dengan mengasumsikan ikan dapat dipanen pada umur 4 6 bulan. Penambahan jumlah ikan yang ditebar ini dilakukan secara bertahap seiring dengan penambahan jumlah keramba yang berkorelasi dengan jumlah fosfat yang terbuang ke perairan. Nilai fosfat dapat digunakan untuk menentukan nilai klorofil yang nantinya dikonversi menjadi produktivitas primer, yang kemudian digunakan untuk menduga jumlah ikan yang dapat ditebar (Siregar et al 2015).


BAB 3
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum Fisiologi Hewan Air Tentang “Pengaruh Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan” dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 5 September 2018 pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan (BDP) lantai 1, Jurusan Perikanan Fakultas Pertaian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah akuarium, kertas label gayung, DO meter, kamera, serta lap atau tissue. sedangkan bahan yang digunakan ialah ikan (kelompok 1 ikan Platy 120 ekor, kelompok 2 ikan Nila 35 ekor, kelompok 3 ikan Lele 35 ekor).

3.3 Metode Percobaan
Praktikum ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang menggunakan 3 taraf perlakuan, yaitu padat tebar 1 ekor/liter, padat tebar 2 ekor/liter, dan padat tebar 3 ekor/liter. Untuk ikan platy menjadi 2 kali lipatnya. Pada perlakuan pertama (padat tebar 1 ekor/liter) akuarium diisi 10 liter air dan 18 ekor ikan platy, setiap 15 menit dilakukan pengukuran DO selama 14 jam. Pada perlakuan 2 (padat tebar 2 ekor/liter) akuarium diisi 10 liter air dan 36 ekor ikan platy, setiap 15 menit dilakukan pengukuran DO selama 14 jam. perlakuan 3 (padat tebar 3 ekor/liter) akuarium diisi 10 liter air dan 54 ekor ikan platy, setiap 15 menit dilakukan pengukuran DO selama 14 jam. Data dikelompokan tiap jam. Parameter yang diamati adalah tingkah laku atau respon ikan, DO, dan jumlah ikan mati. Adapun prosedur nya dapat dilihat pada diagram alir dibawah ini.


Padat tebar 1 ekor/liter

Siapkan akuarium yang sudah diberi 10 liter air
Masukan 18 ekor ikan Platy  pada akuarium
Amati ikan setiap 15 menit selama 14 jam
Lakukan pengukuran DO

Gambar 1. Diagram Alir Pengaruh Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan dengan padat tebar 1 ekor/liter

Padat tebar 2 ekor/liter

     Siapkan akuarium kedua yang sudah diberi 10 liter air
Masukan 36 ekor ikan Platy  pada akuarium
Amati ikan setiap 15 menit selama 14 jam
                                             
Lakukan pengukuran DO

Gambar 2. Diagram Alir Pengaruh Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan dengan padat tebar 2 ekor/liter
Padat tebar 3 ekor/liter
     Siapkan akuarium ketiga yang sudah diberi 10 liter air
Masukan 54 ekor ikan Platy  pada akuarium
                       Amati ikan setiap 15 menit selama 14 jam
                        
                             Lakukan pengukuran DO

Gambar 3. Diagram Alir Pengaruh Padat Tebar Terhadap Proses Fisiologis Ikan dengan padat tebar 3 ekor/liter

3.4  Metode percobaan
Tabel 1. Rancangan Acak Kelompok (RAK)

A
B
Y..
1
0,001190476
0,001190476
0,002380952
2
0,001190476
0
0,001190476
3
0,001190476
0,001190476
0,002380952
Jumlah
0,003571429
0,002380952
0,005952381


3.5 Metode Analisis
Tabel 2. Tabel Anova
Anova: Two-Factor Without Replication











SUMMARY
Count
Sum
Average
Variance


1
2
0,002381
0,00119
0


2
2
0,00119
0,000595
7,09E-07


3
2
0,002381
0,00119
0









A
3
0,003571
0,00119
0


B
3
0,002381
0,000794
4,72E-07
















ANOVA






Source of Variation
SS
df
MS
F
P-value
F crit
Rows
4,72E-07
2
2,36E-07
1
0,5
19
Columns
2,36E-07
1
2,36E-07
1
0,42265
18,51282
Error
4,72E-07
2
2,36E-07










Total
1,18E-06
5









BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hail dari praktikum Fisiologi Hewan Air tentang padat tebar terhadap fisiologi ikan platy adalah sebagai berikut:

 
Grafik 1. Pengaruh DO terhadap SR pada akuarium pertama

Pengamatan pada akuarium satu, dimana akuarium diletakan pada kondisi terkena cahaya matahari, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,2 mg/L pada jam ke 12 dengan tingkat bertahan hidup 100% selama rentang waktu dua jam. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 6,1. Pada akuarium satu Tingkat bertahan hidup paling rendah terdapat pada jam ke 13 dengan SR 97%  pada saat DO nya 6,8 mg/L ikan mati satu. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa DO sangat mempengaruhi tingkat bertahan hidup ikan platy (Rachmawati et al 2016).
Jumlah DO sangat mempengaruhi SR. Jika DO tinggi maka ikan akan jarang ke permukaan untuk mengambil oksigen. Sebaliknya, rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan harus memompa sejumlah besar air ke permukaan untuk mengambil oksigen. Tidak hanya volume besar yang dibutuhkan tetapi juga energy untuk pemompaan yang jauh lebih besar karena air 800 lebih padat disbanding udara. Insang juga harus mengeluarkan ion-ion berlebih yang masuk kedalam tubuh. Semakin besar DO maka tingkat bertahan hidup ikan juga akan semakin besar (Novita et al 2015).

 
Grafik 2. Pengaruh DO terhadap SR pada akuarium dua

Pengamatan pada akuarium kedua, dimana akuarium diletakan pada kondisi terkena cahaya matahari, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 6,8 mg/L pada jam ke 14 dengan tingkat bertahan hidup 100% selama rentang waktu dua jam, karena tidak ada ikan yang mati. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 6,1 mg/L. Pada akuarium dua Tingkat bertahan hidup paling rendah terdapat pada jam ke 3 dengan SR 98,5%  pada saat DO nya 6,3 mg/L ikan ada yang mati satu (Siregar et al 2015).
 
Grafik 3. Pengaruh DO terhadap SR pada akuarium tiga

Pengamatan pada akuarium ketiga, dimana akuarium diletakan pada kondisi bawah dan sedikit terkena cahaya matahari, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,0 mg/L pada jam ke 12 dengan tingkat bertahan hidup 100% selama rentang waktu dua jam, karena tidak ada ikan yang mati pada waktu tersebut. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam kelima dengan DO 5,9 mg/L. Pada akuarium tiga Tingkat bertahan hidup paling rendah terdapat pada jam ke 9 dengan SR 99%  pada saat DO nya 6,5 mg/L ikan ada yang mati satu (Rachmawati et al 2016).
Grafik 4. Pengaruh DO terhadap Laju Kematian Ikan pada akuarium 1

Pengamatan pada akuarium satu, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,2 mg/L pada jam ke 12 dengan laju kematian 0 karena tidak ad  a ikan yang mati selama rentang waktu dua jam tersebut. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 6,1. Pada akuarium satu laju kematian ikan paling tinggi terdapat pada jam ke 13 dengan LKI 0,0083 dimana ikan platy mati satu pada pukul 00.10 WIB saat DO nya 6,8 mg/L (Rachmawati et al 2016).
 
Grafik 5. Pengaruh DO terhadap Tingkat Kematian Ikan pada akuarium 2

Pengamatan pada akuarium dua, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 6,8 mg/L pada jam ke 14 dengan laju kematian 0 karena tidak ada ikan yang mati selama waktu pengamatan tersebut. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 6,1 mg/L. Pada akuarium dua laju kematian ikan paling tinggi terdapat pada jam ke 3 dengan laju kematian ikan sebesar 0,0083 dimana ikan yang mati berjumlah satu ikan mati satu pada pukul 13.41 WIB pada saat DO nya 6,8 mg/L (Timang et al 2010).
Grafik 6. Prngaruh DO terhadap Laju Kematian Ikan pada akuarium 3

Pengamatan pada akuarium tiga, didapatkan kadar oksigen terlarut (DO) paling tinggi sebesar 7,0 mg/L pada jam ke 12 dengan laju kematian 0 karena tidak ada ikan yang mati selama waktu pengamatan tersebut. Sedangkan kadar oksigen paling rendah terdapat pada jam keenam dengan DO 5,9 mg/L. Pada akuarium tiga laju kematian ikan paling tinggi terdapat pada jam ke 9 dengan laju kematian ikan sebesar 0,0083 dimana ikan platy yang mati berjumlah satu pada pukul 20.00 WIB ketika DO nya 6,5 mg/L (Rachmawati et al 2016).




BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Ikan pada akuarium ketiga lebih rendah tingkat bertahan hidupnya dari pada akuarium pertama dan kedua. Hal ini disebabkan jumlah ikan yang ditebar pada akuarium tiga lebih banyak. Pada pengamatan ini diketahui DO terbesar terdapat pada akuarium satu yaitu 7,2 mg/L dan  DO terendah terdapat pada akuarium 3 yaitu 5,9 mg/L. Sedangkan laju kematian ikan setiap akuariumnya sama yaitu 0,0083 karena disetiap akuarium ikan yang mati hanya satu, yang membedakan hanya waktu kematiannya saja.
Jumlah padat tebar ikan pada suatu akuarium atau kolam sangat mempengaruhi kondisi fisiologis ikan tersebut. Semakin banyak ikan yang ditebar per satuan luas atau volume maka akan semakin tinggi pula saingan antar ikan untuk mendapatkan pakan, oksigen, dan zat terlaur lainnya. Jumlah DO sangat mempengaruhi tingkat bertahan hidup ikan dan laju kematian ikan. Jika DO tinggi maka ikan akan jarang ke permukaan untuk mengambil oksigen. Sebaliknya, rendahnya jumlah oksigen dalam air menyebabkan ikan harus memompa sejumlah besar air ke permukaan untuk mengambil oksigen. Tidak hanya volume besar yang dibutuhkan tetapi juga energy untuk pemompaan yang jauh lebih besar karena air 800 lebih padat disbanding udara. Insang juga harus mengeluarkan ion-ion berlebih yang masuk kedalam tubuh. Semakin besar DO maka tingkat bertahan hidup ikan juga akan semakin besar.

5.2. Saran
Sebaiknya digunakan ikan yang lebih besar agar dapat teramati dengan jelas yang terjadi pada tubuh ikan selama proses pengamatan. Serta pada saat proses pengamatan praktikan yang sebentar lagi kebagian jadwal mengamati ikan sebaiknya tetap berada di lingkungan sekitar akuarium agar tidak telat serta tidak digantikan oleh temannya yang lain.


DAFTAR PUSTAKA


Karlyssa1, F.J., Irwanmay. Leidonald, R. 2013. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Kelangsungan Hidup Dan PEertumbuhan Ikan Nila Gesit (Oreochromis niloticus). Jurnal Sumberdaya Perairan, Universitas  Sumatera Utara. 2 (1).

Legovic, T. Palerud, R., Christensen, G. White, P. 2008. A Model to Estimate Aquaculture Carring Capacity in Three Areas of the Philipines. Science Dilman. 20 (2): 31-40.

Muhlisin. Leksono, S.M.  Bahrudin, D.V. 2015. Daya Dukung Lingkungan Dalam            Pengembangan Pusat Inovasi Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (PI UMKM) Peternakan Domba-Kambing Di Kabupaten Pandeglang     ProvinsiI Banten. Jurnal Bina Praja. Volume 7 No. 1 Hal: 37 – 50.

Novita, M.Z., Soewardi, K., Pratiwi,N.K.M. 2015. Penentuan Daya Dukung Perairan untuk Perikanan Alami (Studi Kasus: Situ Cilala, Kabupaten Bogor). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), Vol. 20 (1) Hal: 66-71

Rachmawati, D. Samidjan, L. dan Pinandoyo. 2016. Analisis Tingkat Kecerahan   Warna Ikan Platy Pedang (Xiphophorus helleri) Melalui Penambahan Astaxanthin Dengan Dosis Berbeda Pada Pakan Komersial. Jurnal Pena    Akuatika. Volume 13 No. 1

Siregar, R., Eriyusni. Lesmana, I. 2015. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan Ikan Redfin (Epalzeorhynchos frenatum). Jurnal   Sumberdaya Perairan, Universitas Sumatera Utara. 5 (1).

Timang, Y., Muhammad, R.A., Rispa, P. 2010. Mekanisme Pergerakan Sirip-sirip  Ikan.Universitas Hasanudin: Makasar

Wardoyo, S.T.H. 1975. Pengelolaan Kualitas Air. IPB:Bogor.




Lampiran 1. Perhitungan
FK       = (∑Y..)2 / (t.r)
= (0,002380952 + 0,001190476 + 0,002380952)2 / (2*3)
= 5,90514E-06
JKT     = ∑(Yij2)-FK
= (0,001190476)2 + (0,001190476)2 + (0,001190476)2 + (0,001190476)2 + (0)2 + (0,001190476)2 – (5,90514E-06)
= (7,08617E-06) - (5,90514E-06)
=1,18103E-06
JKP     = (∑Yi)2 /r – FK
            = (0,002380952 + 0,001190476 + 0,002380952 )2 /2 - 5,90514E-06
            = 4,72411E-07
JKK     = (∑Yi)2 /t – FK
            = (0,002380952 + 0,001190476 + 0,002380952 )2 /3 - 5,90514E-06
            = 2,36206E-07
JKS     = JKT-JKK-JKP
            = 1,18103E-06 - 2,36206E-07 - 4,72411E-07 = 4,72411E-07
DBP    = (r-1) = (3-1) =2
DBK   = (t-1) = (2-1) =1
DBS    = (t-1) * (t-1) = (3-1) * (2-1) =2
DBT    = (t*r)-1= (3*2)-1= (6-1) = 5
KTK    = JKK/DBK = 2,36206E-07 / 1 = 2,36206E-07
KTP     = JKP/DBP = 4,72411E-07 / 2 = 2,36206E-07
KTS     = JKS/DBS = 4,72411E-07 / 2 = 2,36206E-07
F Hit    = KTK/KTS = 2,36206E-07 / 2,36206E-07 = 1
F Hit    = KTP/KTS = 2,36206E-07 / 2,36206E-07 = 1
F Tab   = 19 (5%)
F Tab   = 18,51282 (5%)
Lampiran 3. Tabel pengamatan
Tabel 3. Pengamatan ikan platy

Menit ke -
Respon (Tingkah Laku)
DO (mg/L)
Ikan mati
11.15-11.30
Ikan tenang cenderung aktif.
6,5
0
Ikan tenang cenderung aktif.
6,4
0
Ikan lebih pasif dari akuarium satu.
6.7
0
11.30-11.45


Ikan cederung pasif, berada di bawah, meneluarkan kotoran,dan operculum bergerak cepat.
6,4
0
Ikan aktif bergerak, berada di atas, dan operculum bergerak cepat.
6,5
0
Ikan menyebar, aktif, dan operculum bergerak cepat.
6.4
0
11.45-12.00
Ikan cenderung pasif, normal, dan berkelompok.
6,2
0
Ikan normal, lebih aktif bergerak, berkelompok, dan operculumnya normal
6,5
0
Bergerak aktif, ikan menyebar tiap sisi, dan ada yang berenang dibawah.
6,7
0
12.00-12.15
Ikan cenderung diam di dasar akuarium dan bergerombol
6,3
0
Ikan cenderung mengambil O2 ke permukaan.
6,6
0
Ikan menyebar, cenderung mendekati dinding akuarium.
6,7
0
12.15-12.30
Ikan cenderung diam, dan operculum bergerak normal.
6,9
0
Ikan cenderung aktif, dan berada di permukaan.
6,5
0
Ikan menyebar di seluruh sisi akuarium, pererakannya cenderung aktif.
6,6
0
12.30-12.45
Ikan cenderung pasif, dan bergerak normal.
6,4
0
Ikan pasif, operculum bergerak normal, dan ikan cenderung bergerombol di bawah permukaan.
6,6
0
Ikan berenang diseluruh sisi akuarium dan bergerak dengan normal..
6,4
0
12.45-13.00
Ikan cenderung pasif.
6,6
0
Ikan berkumpul dan berenang ke sisi akuarium.
6,7
0
Pergerakan ikan melambat, berpencar, dan berada di permukaan.
6,7
0
13.00-13.15
Ikan menyebar dan bergerombol, pergerakannya cenderung pasif.
6,4
0
Ikan berkumpul di satu sisi akuarium, dan cenderung diam.
6,4
0
Pergerakan ikan aktif, menyebar ke seluruh sisi akuarium, dan berada  di permukaan.
6,6
0
13.15-13.30
Ikan cenderung pasif dan bergerombol.
6,6
0
Ikan bergerombol, cenderung diam dan berada di permukaan.
6,6
0
Ikan menyebar di sisi kauarium dan pergerakannya aktif.
6,4
0
13.30-13.45
Ikan cenderung diam dan berkumpul disisi akuarium.
6,6
0
Ikan berkumpul disisi akuarium dan cenderung di permukaan.
6,5
1 (13.41)
Ikan bergerak aktif, menyebar seakan menuju permukaan.
6,4
0
13.45-14.00
Ikan berada di pojok akuarium.
6,5
0
Ikan berada di salah satu sisi akuarium.
6,6
0
Ikan menyebar dan pergerakannya aktif.
6,5
0
14.00-14.15
Ikan pasif dan mulai menyebar ke semua sisi akuarium.
6,7
0
Ikan sedikit aktif dan berada di satu sisi akuarium.
6,7
0
Ikan masih aktif dan menyebar kesemua sisi akuarium.
6,9
0
14.15-14.30
Ikan bergerombol ke bawah dan ikan pasif.
6,7
0
Ikan berpencar berada di permukaan dan pasif.
6,5
0
Ikan masih bergerak aktif.
6,7
0
14.30-14.45
Ikan menyebar rata atas bawah dan mulai aktif beberapa.
6,1
0
Beberapa ikan aktif dan merata penyebarannya.
5,7
0
Ikan aktif bergerak.
5,7
0
14.45-15.00
Ikan bergerombol, diam (pasif), dan beberapa  berada di dasar akuarium.
5,7
0
Ikan menyebar, cenderun menghindari cahaya, dan pasif.
5,4
0
Ikan cenderung bergerak normal dan beberapa  mulai mengambil O2  permukaan.
5,3
0
15.00-15.15
Ikan cenderung diam dan berada di bawah permukaan.
6,2
0
Ikan bergerak normal, beberapa mencari makan di dasar akuarium.
6,4
0
Ikan bergerak normal, beberapa mulai mengambil O2  permukaan, dan ikan berpencar.
6,4
0
15.15-15.30
Ikan menyebar, beberapa ikan lincah tapi lebih banyak yang pasif, dan berada di bawah permukaan.
6,3
0
Ikan menyebar, beberapa ikan lincah, dan ikan berada ditengah.
6,3
0
Ikan lincah (aktif) dan menyebar rata.
6,1
0
15.30-15.45
Ikan menyebar dan pergerakannya cepat, ikan menambil nafas ke permukaan.
5,6
0
Ikan cenderung pasif, ikan bergerombol, operculum bergerak cepat, dan sebagian ikan mengabil nafas ke permukaan.
5,7
0
Ikan menyebar ke sisi akuarium dan sebagian mengambil O2  permukaan.
5,8
0
15.45-16.00
Ikan menyebar dan pergerakannya cepat, operculum bergerak dan cepat, beberapa ikan mengambil nafas ke permukaan.
5,5
0
Ikan cenderung pasif, bergerombol ke sisi akuarium, dan sebagian mengambil O2  ke permukaan.
5,4
0
Ikan menyebar ke sisi akuarium, kebanyakan ikan mengambil O2  ke permukaan.
5,6
0
16.00-16.15
Ikan menyebar,pergerakannya cepat, ikan cenderung  bergerak denan pasangan.
5,8
0
Ikan cenderung pasif, bergerombol,dan sebagiannya meyebar ke sisi akuarium.
6,0
0
Ikan meyebar ke sisi akuarium, kebanyakan ikan mengambil O2  ke permukaan.
5,9
0
16.15-16.30
Hampir semua ikan berada di dasar akuarium dan pererakannya lambat.
6,2
0
Ikan tidak diam didasar akuarium,tidak terlalu pasif.
6,5
0
Ikan tidak terlalu pasif, bergerak tidak lambat, beberapa mengambil O2  ke permukaan.
6,3
0
16.30-16.45
Ikan berenang ke permukaan.
6,5
0
Ada ikan yang memijah didasar akuarium.
6,1
0
Ikan berenang menyebar ke sisi akuarium.
5,8
0
16.45-17.00
Ikan berada di dasar akuarium dan ikan pasif
5,8
0
Ikan menghindari cahaya, berenang sedikit aktif.
6,0
0
Beberapa ikan mengambil O2  ke permukaan.
5,7
0
17.00-17.15
Ikan lebih banyak bergerak dan beberapa ada yang ke permukaan.
6,6
0
Bererak sedikit aktif.
6,1
0
Ikan menyebar ke semua sisi.
6,0
0
17.15-17.30
Ikan bergerak aktif.
6,4
0
Pergerakan ikan pasif dan ikan bergerombol.
6,3
0
Pergerakan ikan pasif.
6,2
0
17.30-17.45
Ikan cenderung diam.
6,2
0
Ikan lebih sering bergerombol.
5,9
0
Ikan menyebar ke seluruh sisi akuarium.
5,9
0
17.45-18.00
Gerakkan ikan pasif, bebarapa ikan diam di dasar akuarium.
5,8
0
Ikan bergerombol dipojok  akuarium.
5,9
0
Ikan menyebar, beberapa ikan naik ke  permukaan.
5,9
0
18.00-18.15
Beberapa ikan mengambil O2  ke permukaan.
6,3
0
Ikan bergerombol didasar dan bergerak pasif.
6,2
0
Semua ikan berada di dasar akuarium, ikan bererak pasif.
6,1
0
18.15-18.30
Ikan pasif dan berada di dasar akuarium.
6,4
0
Ikan mulai berpencar ke semua sisi.
6,3
0
Hampir semua ikan berada di permukaan dan ikan bergerak pasif.
6,2
0
18.30-18.45
Ikan berada  di dasar akuarium.
6,1
0
Ikan cenderung diam, berada di dasar akuarium.
6,1
0
Ikan menyebar ke seluruh penjuru akuarium.
6,2
0
18.45-19.00
Ikan menyebar ke sisi akuarium dan cenderung pasif.
6,3
0
Ikan bergerombol di dasar akuarium dan ikan cenderung pasif.
6,4
0
Ikan menyebar ke sisi akuarium dan cenderung pasif.
6,2
0
19.00-19.15
Ikan menyebar ke sisi akuarium dan cenderung pasif
6,4
0
Ikan bergerak normal dan menyebar ke semua sisi akuarium.
6,2
0
Ikan bererak menuju dasar.
5,5
0
19.15-19.30
Ikan berkumpul di dasar, cenderung pasif.
6,7
0
Ikan menyebar dan gerakan ikan cenderung pasif.
6,5
0
Ikan menyebar dan gerakan ikan pasif.
6,5
0
19.30-19.45
Ikan bergerak pasif, berada di dasar akaurium.
6,6
0
Ikan banyak mengeluarkan kotoran dan sebaian berada di dasar permukaan.
6,6
0
Ikan bergerak pasif dan berenang menuju permukaan.
6,5
0
19.45-20.00
Ikan berkumpul di dasar dan cenderung diam.
6,2
0
Ikan menyebar dan gerakannya pasif.
6,6
0
Mulut dan operculum ikan bergerak cepat.
6,7
1 (20.00)
20.00-20.15
Ikan menyebar dan cenderung pasif.
6,5
0
Ikan bergerombol dan cenderung berada di tengah-tengah akuarium.
6,2
0
Ikan bergerombol, mengeluarkan banyak feses.
6,5
0
20.15-20.30
Ikan bergerak pasif, menyebar, dan cenderun berada di dasar.
6,7
0
Ikan menyebar  dan cenderun menuju ke permukaan.
6,5
0
Ikan bererak aktif dan cenderun menuju permukaan.
6,7
0
20.30-20.45
Ikan menyebar di dasar akuarium dan ikan cenderung pasif.
6,7
0
Ikan menyebar di dasar akuarium dan ikan cenderung pasif.
7,0
0
Ikan bergerak pasif dan berada menuju permukaan.
7,0
0

20.45-21.00
Ikan berpencar, dan cenderung naik le permukaan.
6,6
0
Ikan lebih banyak berada di dasar akuarium
6,3
0
Ikan pasif, dan cenderung berada di permukaan
6,3
0
21.00-21.15
Ikan cukup aktif, dan ikan menyebarke beberapa sisi.
6,6
0
Ikan cukup aktif, dan berada di dasar akuarium.
6,4
0
Ikan aktif, dan lebih sering dipermukaan
6,5
0
21.15-21.30
Ikan bergerak ke permukaan mencari O2.
6,5
0
Sebagian ikan berada di dasar, dan ikan menyebar.
6,5
0
Sebagian ikan dipermukaan mencari O2 dan makanan
6,5
0
21.30-21.45
Ikan berada didasar, mencari makan, dan beberapa ikan kepermukaan.
6,5
0
Ikan bergerombol dan pergerakkannya pasif.
6,4
0
Sebagian ikan berada di permukaan, dan operculum bergerak dengan cepat
6,4
0
21.45-22.00
Ikan pasif, meneluarkan feses, dan berada di dasar akuarium.
6,9
0
Ikan pasif, menyebar, dan feses dimakan oleh beberapa ikan.
7,3
0
Ikan pasif, dan berada di permukaan.
7,1
0
22.00-22.15
Ikan pasif, feses makin banyak, dan ikan bergerak kepermukaan untuk mengambil O2.
7,5
0
Ikan pasif, sebagian ikan menambil O2 ke permukaan.
7,1
0
Ikan pasif, feses makin banyak, dan ikan bergerak kepermukaan untuk mengambil O2.
7,2
0
22.15-22.30
Sebaian ikan berenang ke sisi bawah akuarium.
7,5
0
Ikan bergerombol di dasar.
7,3
0
Ikan menyebar, dan cenderung di permukaan.
7,0
0
22.30-22.45
Ikan pasif, dan berada di dasar akuarium.
7,6
0
Ikan berkumpul di permukaan.
7,3
0
Ikan berpencar, dan berada di permukaan.
7,5
0
22.45-23.00
Ikan berada di dasar, dan lapar.
7,6
0
Semua ikan berada di permukaan.
7,2
0
Semua ikan berada di permukaan, dan aktif.
7,1
0
23.00-23.15
Ikan berada di dasar, dan aktif.
7,1
0
Ikan berada di permukaan, dan gerakannya pasif.
7,1
0
Ikan berada di permukaan, dan gerakannya aktif.
7,0
0
23.15-23.30
Ikan berada di dasar, dan mencari makan.
7,0
0
Ikan berada di permukaan, dan pergerakkannya lambat.
6,9
0
Ikan berada di permukaan, dan pergerakkannya lambat.
6,9
0
23.30-23.45
Ikan berada di dasar, dan mulut ikan mengetuk-ngetuk dasar akuarium.
7,0
0
Ikan berada di permukkan, untuk mengambil O2­.
6,6
0
Ikan pergerakkannya lambat, dan menyebar ke semua sisi.
6,7
0
23.45-00.00
Ikan berada di dasar,dan mulai agresif.
6,5
0
Ikan mulai berada di permukaan, dan pergekarakkan mulutnya lambat.
6,6
0
Ikan berada di permukaan, dan cenderung diam
6,4
0
00.00-00.15
Ikan menyebar, dan pererakkannya lambat
6,5
1 (00.10)
Ikan bergerombol, berada di permukaan, dan pergerakkannya lambat
6,3
0
Ikan berada di dasar dan menyebar
6,5
0
00.15-00.30
Ikan mulai bernang kepermukaan, dan ikan menyebar kesegala sisi.
6,8
0
Ikan bergerak lebih cepat dari pada ikan yang berada diakuarium ke-1, dan ikan menyebar ke semua sisi.
6,9
0
Ikan bergerombol menuju sudut akuarium, dan ikan berenang ke sudut depan akuarium.
6,5
0
00.30-00.45
Ikan menyabar ke segala arah, dan gerakan ikan pasif.
5,1
0
Ikan berenang ke permukaan dan pergerakannya cenderung pasif.
6,7
0
Ikan menyebar, dan cenderung pasif.
6,9
0
00.45-01.00
Pergerakan ikan cukup lambat, dan ikan menyebar.
7,4
0
Pergerakan ikan lambat, dan menyebar ke seluruh akuarium.
7,4
0
Pergerakan ikan pasif, dan ikan menyebar kesemua sisi akuarium.
5,4
0
01.00-01.15
Ikan berada di dasar akuarium, dan cenderung pasif.
7,1
0
Ikan cenderung pasif, dan menyebar ke segala sisi akuarium.
6,9
0
Ikan berada di permukaan, dan cenderung pasif
6,4
0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar